Rupiah Menguat ke Rp17.890 per Dolar AS Dipicu Sentimen SKDU BI
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat signifikan pada perdagangan Jumat (17/7/2026) dipengaruhi oleh rilis positif domestik serta pergerakan pasar keuangan global.
Dilansir dari laporan Vibiz News, mata uang rupiah terapresiasi sebesar 0,47 persen atau naik 85 poin ke posisi Rp17.890 per dolar AS setelah sebelumnya sempat dibuka melemah ke level Rp18.034 per dolar AS. Lonjakan ini sekaligus menandai reli penguatan selama empat hari berturut-turut hingga mencapai level tertinggi dalam tiga minggu terakhir.
Sejalan dengan penguatan tersebut, data kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat mata uang garuda bergerak menguat ke level Rp17.944 per dolar AS dari posisi hari sebelumnya yang berada di Rp18.041 per dolar AS. Penguatan mata uang domestik ini dipengaruhi secara signifikan oleh publikasi hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) kuartal II-2026 oleh Bank Indonesia.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan peningkatan aktivitas dunia usaha menjadi motor penggerak sentimen positif di pasar domestik.
"Aktivitas dunia usaha terpantau meningkat. BI melaporkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada kuartal II-2026 berada di 12,97 persen, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yakni 10,11 persen," ujar Ibrahim Assuaibi.
Peningkatan performa tersebut ditopang oleh kapasitas produksi terpakai kuartal II-2026 yang mencapai 73,8 persen, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya sebesar 73,33 persen. Selain itu, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI BI) mencatatkan kinerja industri pengolahan berada di level 51,43 persen.
"BI mencatat bahwa PMI BI itu didorong oleh ekspansi (>50 persen) pada beberapa komponen, seperti Volume Produksi (53,81 persen), Volume Persediaan Barang Jadi (53,00 persen), serta Volume Total Pesanan (52,77 persen)," ujar Ibrahim Assuaibi.
Dari sisi eksternal, dinamika geopolitik global antara Amerika Serikat dan Iran turut memengaruhi pergerakan pasar karena memicu kekhawatiran atas kenaikan biaya energi global.
"Harga minyak yang lebih tinggi berisiko mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve dengan meningkatkan kemungkinan bahwa inflasi tetap di atas target. Walaupun data inflasi konsumen dan produsen AS minggu ini menunjukkan penurunan tekanan harga, tetapi pasar sebagian besar mengabaikan data retrospektif tersebut di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi terbaru dapat membalikkan tren disinflasi," ujar Ibrahim Assuaibi.
Situasi konflik di Timur Tengah ini juga membuat bank sentral AS bersikap lebih berhati-hati dalam menentukan kebijakan suku bunga acuan ke depan.
"Para pembuat kebijakan telah berulang kali memperingatkan bahwa harga minyak yang lebih tinggi akibat konflik di Timur Tengah dapat memperumit prospek inflasi dan mengatakan bahwa mereka membutuhkan beberapa bulan lagi data harga yang rendah sebelum mempertimbangkan pemotongan suku bunga," kata Ibrahim Assuaibi.
Kondisi pasar modal dalam negeri juga menunjukkan performa positif di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,10 persen atau bertambah 67,326 poin ke level 6.175,535 pada akhir perdagangan.