Rupiah Menguat ke Rp17.944 per Dolar AS Didorong Sentimen Eksternal

Share

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil dan dibuka menguat 0,24% ke posisi Rp17.944/US$ pada perdagangan Jumat (12/6/2026). Pergerakan positif ini terjadi di tengah indikasi perbaikan pada sejumlah sentimen eksternal.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, perbaikan tersebut terlihat dari indeks dolar AS yang terkoreksi 0,13% menuju level 99,72. Penurunan ini berjalan beriringan dengan harga minyak mentah dunia yang ikut terpangkas sebesar 1,08% ke angka US$89,4 per barel.

Pasar memberikan respons positif terhadap perkembangan terbaru dari negosiasi antara AS dan Iran. Kondisi tersebut kembali memunculkan harapan di kalangan pelaku pasar mengenai meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Kombinasi antara pelemahan indeks dolar AS dan pemangkasan harga minyak mentah global menjadi angin segar bagi mata uang Garuda. Di sisi internal, pemerintah juga telah menyesuaikan harga bahan bakar non-subsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter demi menekan defisit fiskal pada akhir tahun.

Langkah agresif turut diambil oleh bank sentral dengan menaikkan suku bunga menjadi 5,5% di luar jadwal rapat bulanan. Kebijakan ini diambil agar imbal hasil aset domestik menjadi lebih menarik bagi investor asing.

Kendati demikian, pelaku pasar dinilai masih bersikap wait and see menunggu sinyal yang lebih kuat terkait stabilitas fiskal. Kekhawatiran pasar saat ini masih tertuju pada tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pemerintah sebenarnya tengah mengupayakan penataan sistem distribusi serta melakukan penyesuaian anggaran program MBG. Namun, masalah operasional terkait ekspansi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melebihi target tetap menjadi perhatian investor.

Sikap hati-hati dari para pelaku pasar modal masih tecermin dari tingginya tingkat imbal hasil Surat Utang Negara (SUN). Sebagian besar tenor mencatat kenaikan imbal hasil, termasuk tenor 1 tahun yang naik 3,5 basis poin (bps) menjadi 7,29% dan tenor 6 tahun naik 1,6 bps ke level 7,49%.

Sebaliknya, SUN tenor acuan 10 tahun mulai ramai diburu oleh pasar sehingga imbal hasilnya turun 2,2 bps menjadi 7,42%. Penurunan yield juga terjadi pada tenor 11 tahun yang merosot hingga 12,3 bps menjadi 7,4%.

Sisi positif lain datang dari keberhasilan Danantara dalam menghimpun dana sebesar US$1,5 miliar melalui penerbitan obligasi dolar global perdana. Tingginya permintaan pasar terhadap instrumen ini membuktikan daya tarik aset domestik Indonesia masih terjaga.

Dari pasar regional, penurunan harga minyak mentah dunia disambut baik oleh bursa Asia. Mata uang won Korea Selatan memimpin penguatan, kemudian diikuti oleh baht Thailand, rupiah, ringgit Malaysia, yuan China, serta dolar Hong Kong.

Namun, beberapa mata uang lain seperti yen Jepang, dolar Taiwan, dolar Singapura, dan yuan offshore terpantau masih bergerak melemah di zona merah.

Sentimen positif eksternal ini juga mendorong penguatan pada pasar saham kawasan Asia. Bursa saham Jepang dan Australia bergerak menguat hingga mengangkat MSCI Asia Pacific Index sebesar 2%, sementara indeks Kospi Korea Selatan melonjak 7% akibat reli saham teknologi.

Optimisme pasar kembali menebal setelah munculnya indikasi kuat bahwa pihak AS dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan diplomatik, yang meminimalkan risiko perluasan konflik geopolitik.

"Meski jalan menuju penyelesaian kemungkinan tidak mulus, skenario dasar kami adalah diplomasi pada akhirnya menang sehingga investor dapat kembali fokus pada fundamental ekonomi yang kuat dan pertumbuhan laba yang solid," kata Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS, seperti dikutip Bloomberg News.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author