Rupiah Menguat ke Rp18.143 per Dolar AS pada 9 Juni 2026

Share

Rupiah membuka perdagangan dengan penguatan terbatas sekaligus memutus tren pelemahan yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Seperti dilansir dari Bloomberg Technoz, mata uang Garuda menguat 0,09% ke posisi Rp18.143/US$ pada perdagangan Selasa (9/6/2026) pagi.

Pergerakan ini terjadi saat indeks dolar Amerika Serikat (AS) meningkat dan harga minyak bertahan tinggi di level US$93,75 per barel pada pukul 08.45 WIB. Penguatan rupiah terdorong oleh harga minyak mentah dunia yang terkoreksi sebesar 0,2%.

Kondisi tersebut membuat mayoritas mata uang di kawasan Asia ikut bergerak di zona hijau. Won Korea Selatan memimpin penguatan sebesar 0,8%, diikuti ringgit Malaysia yang menguat 0,34%.

Mata uang lain seperti baht Thailand menguat 0,18%, sedangkan yuan offshore dan dolar Singapura sama-sama naik 0,09%. Peso Filipina serta dolar Hong Kong juga terapresiasi masing-masing sebesar 0,04% dan 0,01%.

Pemulihan won Korea Selatan ditopang oleh pengumuman ketat pemerintah setempat terhadap aktivitas spekulatif. Kementerian Keuangan Korea Selatan menyatakan akan meningkatkan pengawasan dan menyelidiki dugaan pelanggaran pasar yang memicu volatilitas.

Sementara itu, penguatan ringgit Malaysia didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik. Namun, pelaku pasar tetap mencermati arah kebijakan The Fed serta data inflasi AS yang akan datang.

Di sisi lain, peso Filipina bergerak stabil setelah sempat melemah berkat dukungan data penurunan tingkat pengangguran. Investor di pasar Filipina kini bersiap mengantisipasi keputusan suku bunga bank sentral pekan depan.

Meskipun mata uang kawasan bergerak positif, pergerakan rupiah diproyeksikan masih menghadapi tekanan depresiasi. Kendati demikian, koreksi harga minyak mentah dunia dinilai dapat membuat pelemahan rupiah menjadi lebih terkendali.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini diperkirakan bergerak pada rentang Rp18.150 hingga Rp18.250/US$.

Untuk menjaga stabilitas, pemerintah melaksanakan lelang Surat Utang Negara (SUN) dengan target indikatif sebesar Rp36 triliun. Langkah ini dibarengi dengan kenaikan imbal hasil SUN dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor 12 bulan menjadi 7,25%.

Kebijakan menaikkan imbal hasil tersebut diambil sebagai bentuk komitmen pemerintah demi menarik kembali aliran modal asing ke dalam negeri.

Saat ini selisih imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi dolar AS (INDON) dibandingkan obligasi pemerintah AS (US Treasury) melebar sebanyak 109,2. Imbal hasil US Treasury 10 tahun berada di angka 4,56%, sedangkan INDON mencapai 5,6%.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author