Rupiah Melemah Terbatas ke Rp18.130 per Dolar AS Jelang Akhir Pekan

Share

Nilai tukar rupiah di luar negeri bergerak di kisaran Rp18.130 per dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda tercatat melemah terbatas sebesar 0,06% dari level pembukaan pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), dilansir dari Bloombergtechnoz pada Jumat (10/7/2026).

Laju penguatan indeks dolar AS tertahan di posisi 100,88 seiring penurunan harga minyak mentah sebesar 0,22% ke level US$76,13 per barel. Pelaku pasar menilai konflik antara AS dan Iran kecil kemungkinannya mengganggu pasokan energi global.

Pembicaraan teknis antara Washington dan Teheran dilaporkan masih terus berlangsung. Pemerintah AS menyatakan tetap berkomitmen mencari penyelesaian diplomatik atas konflik tersebut.

Situasi global ini memicu penguatan sebagian mata uang Asia. Ringgit Malaysia memimpin apresiasi sebesar 0,24%, disusul oleh baht Thailand, yen Jepang, yuan offshore, dolar Singapura, dan peso Filipina. Sebaliknya, won Korea Selatan dan dolar Hong Kong mengalami pelemahan sangat terbatas.

Bagi Indonesia, meredanya tekanan geopolitik belum cukup menopang penguatan rupiah. Pasar saham domestik tertekan oleh peringatan MSCI dan sinyal dari S&P Dow Jones Indices terkait potensi hilangnya status Indonesia sebagai emerging market akibat masalah transparansi.

Sentimen negatif tersebut turut memicu volatilitas pada nilai tukar rupiah. Di sisi lain, para investor masih mencermati arah kebijakan fiskal serta indikator pertumbuhan ekonomi domestik yang menunjukkan sedikit perlambatan.

Meski terjadi koreksi tajam, sejumlah investor jangka panjang memanfaatkannya sebagai peluang akumulasi. Manajer investasi asal Afrika Selatan yang mengelola aset US$29 miliar dilaporkan mulai membeli saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Kondisi ini menunjukkan bahwa fundamental sejumlah perusahaan domestik dinilai masih layak dikoleksi oleh investor global di tengah memburuknya sentimen jangka pendek.

Sementara itu, penurunan harga minyak dunia berhasil meredakan tekanan di pasar Surat Utang Negara (SUN). Risiko lonjakan inflasi impor dan pelebaran defisit transaksi berjalan akibat impor energi dapat sedikit berkurang.

Dampaknya terlihat dari yield SUN tenor 1 tahun yang merosot ke level 7,06% dari posisi sebelumnya di 7,4%. Namun, ruang penguatan obligasi masih terbatas karena tingginya premi risiko yang diminta oleh para investor.

Yield SUN tenor 1 tahun juga harus bersaing dengan yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang bertengger di level 7,6% untuk tenor 12 bulan. Peluang penguatan rupiah secara bertahap tetap terbuka jika stabilitas pasar keuangan dan fundamental ekonomi terus membaik.

Pergerakan teknikal hari ini mengindikasikan adanya sinyal pelemahan lebih lanjut untuk nilai tukar rupiah. Target pelemahan pertama diproyeksikan menuju level support di Rp18.100/US$, dengan target kedua tertahan di Rp18.150/US$.

Jika kedua level support tersebut ditembus dengan volume besar, rupiah berisiko merosot ke level pesimistis Rp18.200/US$ yang menjadi rekor terlemah sepanjang sejarah. Sebaliknya, jika rupiah menguat, area resistance yang perlu dicermati berada pada kisaran Rp18.000-Rp17.900/US$.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author