Rupiah Melemah ke Rp17.913 per Dolar AS Akibat Sentimen Global

Share

Nilai tukar rupiah di pasar luar negeri Non-Deliverable Forward melemah sebesar 0,29 persen ke posisi Rp17.913 per dolar Amerika Serikat pada Selasa pagi pukul 06.55 WIB akibat sentimen global yang penuh ketidakpastian.

Koreksi mata uang Indonesia tersebut terjadi setelah sebelumnya sempat dibuka relatif datar pada level Rp17.862 per dolar Amerika Serikat, berdasarkan data yang dilansir dari Bloomberg Technoz pada Selasa (2/6/2026).

Pergerakan rupiah terus tertahan di zona merah hingga pukul 07.20 WIB dengan pelemahan sebesar 0,1 persen ke posisi Rp17.880 per dolar Amerika Serikat di tengah penurunan tipis indeks dolar Amerika Serikat sebesar 0,03 persen ke level 99,17.

Kekhawatiran pasar keuangan saat ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah Brent sebesar 3,18 persen ke posisi US$94,98 per barel akibat belum jelasnya negosiasi distribusi energi antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam wawancara telepon dengan media lokal menyampaikan bahwa nota kesepahaman untuk membuka kembali jalur Selat Hormuz berpotensi dicapai pada pekan depan meskipun masih ada beberapa poin yang harus diselesaikan.

Sebaliknya, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, mengabarkan bahwa pihak Teheran bersama sekutu regional justru sedang mempertimbangkan opsi penutupan total pada jalur perdagangan strategis Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.

Kondisi politik luar negeri yang tidak menentu ini dinilai oleh pelaku pasar berisiko memperpanjang gangguan pasokan energi global dan memicu fluktuasi harga komoditas dalam jangka pendek.

"Jika muncul indikasi lebih lanjut bahwa para pihak tidak lagi aktif bernegosiasi, pasar akan kehilangan sebagian faktor penyangga yang selama ini mendukung ekspektasi skenario terbaik," ujar Rebecca Babin, Senior Energy Trader di CIBC Private Wealth Group.

Menurut penjelasan Rebecca Babin, ketegangan geopolitik tersebut terus mengalami perubahan arah kebijakan dan sampai saat ini belum mencapai suatu keputusan akhir yang bersifat final.

Tekanan terhadap aset berisiko di negara berkembang diperkirakan belum mereda karena pasar domestik juga sedang mengamati rilis data inflasi serta neraca perdagangan Mei, bersamaan dengan publikasi indeks aktivitas manufaktur Purchasing Manager's Index beberapa negara Asia.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: makroekonomi Pasar Uang rupiah
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author