Rupiah Melemah ke Rp17.862 Terdorong Harga Minyak dan Utang Luar Negeri
Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.862 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (18/8/2026), terdorong oleh kenaikan harga minyak dan posisi utang luar negeri Indonesia yang bertambah.
Rupiah melemah 64 poin atau 0,36 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.798 per dolar AS, setelah sebelumnya dolar AS menguat ke Rp17.850 pada pembukaan perdagangan Selasa pagi.
Kenaikan harga minyak mentah Brent mencapai 2,4 persen menjadi 90,60 dolar AS per barel, dan minyak mentah West Texas Intermediate naik 2,2 persen menjadi 84,20 dolar AS per barel, dipicu oleh kekhawatiran berlanjutnya konflik antara AS dan Iran yang meningkatkan ketegangan geopolitik.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan, "Rupiah pada perdagangan hari ini melemah, dipengaruhi oleh global kenaikan harga minyak akibat kekhawatiran berlanjutnya konflik AS dan Iran."
Lonjakan harga minyak di atas asumsi APBN sebesar 70 dolar AS per barel berpotensi memicu defisit fiskal, sementara kondisi fundamental ekonomi Indonesia belum solid, tambah Rully.
Selain dampak harga minyak, posisi utang luar negeri Indonesia juga membebani rupiah. Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai 453,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp8.089,1 triliun, tumbuh 4,4 persen secara tahunan.
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, "Tingginya kebutuhan impor minyak mentah membuat pelaku usaha dan pemerintah harus melakukan pembayaran dalam denominasi dolar AS."
Menurut Ibrahim, lonjakan permintaan dolar AS untuk pembelian minyak mentah memperkuat mata uang tersebut dan menekan nilai tukar rupiah.
Konflik geopolitik semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan memperpanjang perjanjian gencatan senjata dengan Iran, yang berakhir Senin lalu. Pernyataan ini memicu ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.
Komandan Angkatan Darat Iran Jenderal Amir Hatami menegaskan bahwa AS tidak berhak melintasi Selat Hormuz, yang menurutnya merupakan peluang geopolitik bagi Iran dan situasi di kawasan tersebut tidak akan kembali seperti semula.
Selain itu, kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangan rudal terhadap kapal militer Arab Saudi dan kapal pengawal di Laut Merah, menambah ketegangan di kawasan.
Pelaku pasar juga masih menanti keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia pada Rapat Dewan Gubernur 18-19 Agustus 2026, yang diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga acuan BI-Rate yang kini berada di level 5,75 persen.
Keputusan BI dan risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal AS yang akan dirilis menjadi faktor penting penentu arah pergerakan rupiah di tengah ketidakpastian global.