Rupiah Melemah 7,24% Sepanjang 2026 Akibat Erosi Fundamental Ekonomi
Stabilitas nilai tukar rupiah menghadapi tekanan besar pada paruh kedua tahun 2026. Berbagai indikator ekonomi menunjukkan pelemahan pada sektor-sektor yang selama ini menjadi penopang utama mata uang Garuda.
Dikutip dari Bloomberg Technoz, rupiah mencatat pelemahan sebesar 4,96% sepanjang kuartal II-2026 dan sempat menyentuh level terendah baru. Depresiasi tersebut mengakibatkan akumulasi penurunan rupiah sepanjang tahun berjalan mencapai 7,24%, berada di posisi sedikit lebih baik daripada won Korea Selatan.
Kondisi ini terjadi seiring memudarnya dukungan dari surplus perdagangan, cadangan devisa, serta pertumbuhan ekonomi domestik yang sebelumnya dinilai cukup solid.
Struktur perdagangan Indonesia mengalami perubahan setelah mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026. Catatan dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ini merupakan defisit pertama yang terjadi sejak April 2020.
Faktor utama pemicu defisit adalah sektor migas yang minus US$3,76 miliar, terutama dipengaruhi oleh komoditas minyak dan minyak mentah. Secara tahunan, nilai ekspor nasional mengalami kontraksi 5,73% menjadi US$23,2 miliar.
Penurunan pengiriman barang terjadi pada sektor migas maupun non-migas. Ekspor minyak mentah hampir tidak tercatat lagi, sementara pengiriman gas alam merosot melampaui 44%.
Perlambatan aktivitas manufaktur global turut menurunkan permintaan dari negara mitra seperti Amerika Serikat, India, dan kawasan ASEAN. Hal ini berdampak pada penurunan ekspor non-migas sebesar 4,5%.
Pada saat yang sama, total impor melonjak lebih dari 22% menjadi US$24,81 miliar. Kenaikan impor migas mencapai 70,78% menjadi US$4,51 miliar akibat tingginya harga energi global di tengah konflik antara AS dan Iran, sementara impor non-migas naik 14,89% menjadi US$20,3 miliar.
Laporan dari Samuel Sekuritas menyebutkan bahwa kinerja perdagangan yang melemah dapat memberi tekanan tambahan terhadap neraca transaksi berjalan dan neraca pembayaran pada kuartal II-2026.
Aktivitas Manufaktur Masuk Zona Kontraksi
Penurunan fundamental ekonomi juga terlihat dari sektor riil domestik. Data S&P Global mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia merosot ke angka 46,9 pada Juni 2026 dari posisi 50 pada bulan sebelumnya.
Angka ini menjadi level terendah sejak Juni 2025 sekaligus menandakan aktivitas manufaktur kembali masuk ke zona kontraksi. Penurunan didorong oleh merosotnya pesanan baru dari pasar domestik maupun internasional.
Pesanan ekspor mencatat koreksi terdalam sejak Agustus 2021. Di pasar domestik, konsumsi mulai melambat setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 100 bps sejak Mei.
Dunia usaha merespons kondisi ini dengan mengurangi pembelian bahan baku serta memangkas jumlah tenaga kerja pada laju tercepat dalam hampir lima tahun terakhir. Output manufaktur sendiri telah berkontraksi selama empat bulan berturut-turut.
Tekanan semakin berat karena biaya produksi tetap tinggi akibat depresiasi rupiah yang mengerek harga bahan baku impor dan energi. Inflasi biaya input mencapai level tertinggi kedua sejak survei PMI dimulai pada 2011, yang kemudian diteruskan oleh produsen ke konsumen melalui kenaikan harga jual di tingkat pabrik tertinggi sejak 2013.
Samuel Sekuritas memperkirakan PMI manufaktur masih akan bertahan di bawah ambang ekspansi dalam satu hingga dua bulan ke depan.
Penyusutan Cadangan Devisia dan Prospek Rating Utang
Penurunan pasokan dolar AS akibat hilangnya surplus perdagangan berdampak langsung pada cadangan devisa Indonesia yang kini berada di posisi US$144,9 milar. Angka ini setara dengan 5,5 bulan pembiayaan impor dan pembayaran utang luar negeri, sekaligus menjadi yang terendah dalam dua tahun terakhir.
Sementara itu, utang luar negeri jatuh tempo Indonesia pada tahun ini mencapai Rp833 triliun. Dengan kurs Jisdor Rp17.961/US$, kewajiban yang harus dilunasi tersebut setara dengan US$46,38 miliar atau sekitar 32% dari total cadangan devisa saat ini.
Kondisi ini memicu peringatan dari Fitch Ratings yang menyatakan potensi penurunan peringkat utang Indonesia jika cadangan devisa terus tergerus. Fitch sebelumnya telah mengubah prospek peringkat Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Lembaga rating tersebut memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu menutup 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal pemerintah, berada di bawah median negara berperingkat BBB yang mencapai 5 bulan.
Ruang Kebijakan Suku Bunga Bank Indonesia
Keterbatasan cadangan devisa dan tingginya volatilitas rupiah membuat ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk melakukan intervensi pasar semakin sempit. BI sebelumnya telah menaikkan BI Rate sebesar 100 bps secara bertahap hingga menyentuh 5,75%.
Sejumlah ekonom memproyeksikan BI akan tetap mengambil kebijakan hawkish untuk mengamankan nilai tukar. Ekonom Bloomberg Economics, Tamara Henderson, memperkirakan adanya potensi kenaikan suku bunga acuan tambahan sebesar 50 bps secara bertahap.
Kenaikan diproyeksikan masing-masing sebesar 25 bps pada 22 Juli dan 19 Agustus, sehingga membawa BI Rate ke level 6,25%.
“Bahkan, kenaikan suku bunga tambahan pada kuartal IV masih mungkin diperlukan, bergantung pada respons kebijakan pemerintah,” sebut Henderson dalam catatannya.