Rupiah Melemah ke Rp17.984 per Dolar AS pada 2 Juli 2026
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka merosot pada perdagangan Kamis, 2 Juli 2026. Mata uang Garuda mencatatkan penurunan di tengah penguatan indeks dolar AS yang terus bertahan di level 101,4.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, rupiah melemah 0,14% ke posisi Rp17.975/US$ saat pembukaan pasar. Tidak lama setelah itu, koreksi mata uang domestik berlanjut sebesar 0,2% ke level Rp17.984/US$ pada pukul 09:15 WIB.
Kondisi ini berbeda dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang justru bergerak menguat. Ringgit Malaysia memimpin penguatan sebesar 0,2%, diikuti oleh kenaikan terbatas pada baht Thailand, yuan offshore, yuan China, dolar Singapura, yen Jepang, dolar Hong Kong, dan peso Filipina.
Sebaliknya, won Korea Selatan menjadi mata uang lain di Asia yang bergerak melemah bersama rupiah. Won tertekan menyusul aksi jual besar-besaran pada saham sektor semikonduktor akibat kekhawatiran kelebihan kapasitas dalam reli teknologi kecerdasan buatan (AI).
Apresiasi mayoritas mata uang Asia ditopang oleh meredanya kecemasan pasar terhadap arah kebijakan moneter AS. Sinyal dari sejumlah pejabat The Fed menunjukkan bahwa bank sentral tersebut tidak terburu-buru untuk menaikkan suku bunga acuan, sehingga memperbaiki sentimen aset berisiko.
Namun, tekanan domestik membuat rupiah gagal memanfaatkan momentum tersebut. Indonesia membukukan defisit neraca perdagangan sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026, yang menjadi defisit pertama sejak April 2020 dan memperburuk prospek aset berdenominasi rupiah.
Penurunan kinerja perdagangan dipicu oleh kemerosotan ekspor yang anjlok 5,73% secara tahunan menjadi US$23,2 miliar. Meski realisasi ini melampaui konsensus ekonom, Samuel Sekuritas menilai situasi tersebut berisiko menekan transaksi berjalan.
"Terutama jika pelemahan ekspor berlanjut sementara permintaan impor tetap tinggi," sebut Samuel Sekuritas dalam catatannya.