Studi Ungkap Risiko Kekakuan Arteri Meningkat Setelah Prosedur IVF

Share

Prosedur In Vitro Fertilization (IVF) atau bayi tabung memang menjadi solusi bagi masalah infertilitas. Namun, riset terbaru menunjukkan adanya potensi dampak panjang terhadap kesehatan kardiovaskular ibu pascamelahirkan. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Physiology mengungkapkan bahwa perempuan yang hamil melalui IVF berisiko mengalami kekakuan arteri besar yang meningkat.

Kondisi ini dapat bertahan hingga lima tahun setelah melahirkan, sebagaimana dilansir dari HaiBunda. Infertilitas pada perempuan sebelumnya telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung. Mengingat lebih dari 10 juta anak telah lahir melalui teknologi ini sejak 1978, dampak jangka panjangnya menjadi fokus perhatian peneliti.

Disfungsi vaskular, yang ditandai kekakuan arteri elastis besar, berperan penting dalam memicu penyakit kardiovaskular. Pada kehamilan dengan prosedur IVF, peningkatan risiko stroke dan hipertensi sempat teramati pada periode pascamelahirkan.

Guna menilai fungsi vaskular tersebut, peneliti dari University of Colorado Anschutz Medical Campus, Amerika Serikat, menguji fungsi pembuluh darah pada perempuan yang melahirkan dalam rentang satu hingga lima tahun terakhir. Studi ini melibatkan 24 perempuan dengan kehamilan spontan sebagai kelompok kontrol dan 15 perempuan dengan kehamilan IVF. Kedua kelompok memiliki kesamaan dalam hal usia, persentase lemak tubuh, dan tekanan darah saat istirahat.

Hasil pengujian menunjukkan kekakuan arteri besar pada kelompok IVF jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Meski demikian, tidak ditemukan perbedaan signifikan pada fungsi endotel di antara kedua kelompok tersebut.

Peran Hormon FSH dalam Pembuluh Darah

Untuk mendalami mekanisme biologisnya, arteri besar tikus percobaan diinkubasi dengan sampel serum dari para peserta. Analisis mencatat modulus elastisitas—ukuran kekakuan inheren arteri—28 persen lebih tinggi pada sampel serum kelompok IVF, meski belum mencapai signifikansi statistik.

Pemeriksaan lanjutan terhadap biomarker dan hormon menunjukkan konsentrasi hormon perangsang folikel atau follicle-stimulating hormone (FSH) lebih tinggi pada kelompok IVF. Kadar FSH ini berhubungan positif dengan kekakuan arteri besar secara in vitro.

FSH merupakan hormon produksi kelenjar pituitari yang mengatur sistem reproduksi. Penelitian terdahulu mengaitkan tingginya kadar FSH dengan perubahan pola aliran darah di arteri, seperti aliran balik atau osilasi, yang berpotensi mengganggu fungsi vaskular.

Fungsi Endotel Tetap Terjaga

Walaupun arteri besar terdeteksi lebih kaku, fungsi endotel pada perempuan yang menjalani IVF tercatat tetap terjaga. Peneliti menduga hal ini dipengaruhi oleh efek perlindungan hormon estradiol yang membantu menjaga kesehatan pembuluh darah.

Selain itu, kelompok IVF juga memiliki status antioksidan total yang cenderung lebih tinggi. Kombinasi faktor biologis ini diperkirakan turut menahan terjadinya kerusakan pada endotel.

Karena penelitian ini bersifat cross-sectional, para ahli menegaskan bahwa hasil studi belum dapat menyimpulkan hubungan sebab-akibat secara langsung. Studi lanjutan dalam skala lebih besar masih diperlukan untuk memastikan peran FSH dan faktor sirkulasi lainnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author