Mengenal Risiko Discordant Twin Growth pada Kehamilan Kembar
Kehamilan kembar menyimpan risiko medis yang lebih tinggi daripada kehamilan tunggal. Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah discordant twin growth, sebuah keadaan ketika janin kembar mengalami pertumbuhan yang tidak seimbang di dalam rahim.
Dilansir dari HaiBunda, angka kehamilan kembar mengalami lonjakan dalam beberapa tahun terakhir akibat faktor usia ibu yang lebih lanjut dan kemajuan teknologi reproduksi. Namun, kapasitas rahim manusia yang terbatas dalam memenuhi kebutuhan nutrisi lebih dari satu janin memicu timbulnya pertumbuhan abnormal.
Kondisi discordant twin growth digambarkan melalui pencitraan obstetri sebagai perbedaan ukuran dan berat badan yang signifikan antara kedua janin. Kriteria ini terpenuhi jika perkiraan berat janin yang lebih kecil berada di bawah persentil kesepuluh dari rata-rata populasi janin pada usia kehamilan yang sama.
Data medis menunjukkan bahwa ketidaksesuaian pertumbuhan ini dapat memengaruhi sekitar 25 persen dari total kehamilan kembar, terutama pada tipe monokorionik. Kelainan ini berpotensi memicu cacat lahir, pembatasan pertumbuhan intrauterin, kelahiran prematur, infeksi janin, hingga kematian dalam pekan pertama setelah persalinan.
Secara klinis, perbedaan berat badan antara kedua bayi saat lahir umumnya melampaui 10 persen. Walaupun lebih sering ditemukan pada kembar identik, ketidakseimbangan pertumbuhan ini juga dapat terjadi pada kasus kembar fraternal.
Masalah pertumbuhan janin kembar ini dibagi ke dalam beberapa kategori medis berdasarkan karakteristik klinisnya.
1. Ketidakserasian Berat Badan
Kategori ini ditetapkan apabila terdapat selisih berat badan lebih dari 25 persen di antara kedua janin. Fenomena tersebut dipicu oleh faktor-faktor yang mengganggu pertumbuhan janin secara asimetris atau akibat adanya hambatan pertumbuhan intrauterin.
2. Ketidakserasian Ukuran
Kondisi ini umumnya berhubungan dengan kasus anemia serta perbedaan hematologis pada janin. Perbedaan ukuran tubuh dapat berkembang akibat adanya transfusi antar kembar yang memicu aliran darah tidak merata pada plasenta yang sama.
Faktor Risiko dan Pemicu Utama
Ketidakseimbangan pertumbuhan janin kembar dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara faktor ibu, kondisi janin, serta kesehatan plasenta.
Hambatan pertumbuhan intrauterin pada janin yang lebih kecil sering kali berakar dari pembagian plasenta yang tidak merata. Selain itu, insufisiensi plasenta yang membuat organ tersebut gagal berfungsi optimal turut memperbesar risiko.
Faktor risiko lain mencakup sindrom transfusi kembar dan kondisi insersi tali pusat velamentosa yang tidak merata, terutama pada kembar monokorionik. Janin dengan arteri umbilikalis tunggal atau single umbilical artery (SUA) juga rentan karena pasokan darah menjadi tidak seimbang.
Dari sisi maternal, gangguan kesehatan seperti hipertensi, usia ibu yang sudah lanjut, serta kebiasaan merokok menjadi pemicu utama. Kekurangan nutrisi akibat tidak adanya perawatan prenatal juga mengganggu kemampuan plasenta dalam menyalurkan oksigen dan investasi makanan ke janin.
Sedangkan dari sisi janin, jenis kembar monokorionik atau dikorionik, perbedaan jenis kelamin, dan infeksi virus transplasenta seperti sitomegalovirus dapat menyerang salah satu janin secara spesifik.
Manajemen Medis dan Metode Persalinan
Penanganan medis untuk kasus discordant twin growth sangat bergantung pada usia kehamilan serta posisi dari masing-masing janin di dalam rahim.
Rekomendasi persalinan tanpa komplikasi biasanya dijadwalkan pada usia kehamilan 37 minggu untuk kembar monokorionik, dan 38 minggu untuk kembar dikorionik. Langkah penanganan selama persalinan dikelompokkan ke dalam tiga jenis presentasi janin.
Pertama adalah posisi vertex-vertex, yaitu kondisi saat kedua kepala janin sudah mengarah ke bawah. Kedua, posisi vertex-non-vertex, di mana hanya satu kepala janin yang menghadap ke bawah sementara janin lainnya berada dalam posisi sungsang.
Ketiga adalah kondisi both non-vertex yang berarti kedua janin berada dalam posisi sungsang dengan bokong di bagian bawah rahim. Pilihan metode persalinan, baik fusi normal pervaginam, operasi caesar, maupun prosedur gabungan, akan disesuaikan dengan posisi tersebut.
Metode persalinan gabungan menggabungkan proses melahirkan normal dan operasi caesar. Langkah ini diambil jika muncul komplikasi mendesak seperti prolaps tali pusat, abrupsio plasenta, gawat janin, atau kesalahan posisi pada janin kedua.
Dampak dan Komplikasi Komparatif
Risiko kesehatan akibat pertumbuhan yang tidak serasi ini membayangi ibu maupun kedua bayi dengan tingkat keparahan yang berbeda.
Bagi ibu, komplikasi dapat bermanifestasi dalam bentuk perdarahan pasca persalinan. Sementara bagi janin, risiko meliputi kematian intrauterin, asfiksia neonatal, hingga terganggunya perkembangan neurologis jangka panjang pada janin yang berukuran lebih kecil.
Jika selisih pertumbuhan melebihi angka 20 persen, janin yang lebih kecil berisiko tinggi mengalami hasil perinatal yang buruk seperti lahir mati, sindrom gangguan pernapasan, infeksi, dan trauma lahir. Sebaliknya, janin yang berukuran lebih besar justru menghadapi ancaman kesulitan pernapasan akut pasca persalinan.
Langkah deteksi dini melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) memegang peranan krusial untuk memantau perkembangan janin secara ketat. Jika ditemukan indikasi perbedaan ukuran, dokter akan melakukan analisis tambahan melalui studi arteri umbilikalis dan Doppler janin.