Riset Otak Ungkap Alasan Manusia Sulit Mengingat Memori Masa Bayi
Penelitian terbaru pada otak tikus yang terbit dalam jurnal Nature Communications berhasil memecahkan rahasia ilmu saraf mengenai alasan manusia sulit mengingat kejadian di masa bayi, seperti dilansir dari Detik Health.
Studi ini memfokuskan pengamatan pada area cornu ammonis 3 (CA3) di dalam hipokampus. Wilayah tersebut memegang peranan pusat untuk menyimpan sekaligus memanggil kembali ingatan.
Neuron pada area CA3 memiliki plastisitas, yaitu kemampuan memperkuat atau memperlemah hubungan antarsaraf. Mekanisme ini menentukan apakah suatu ingatan bakal bertahan kuat atau justru pudar seiring waktu.
Para peneliti menemukan bahwa jaringan hipokampus pada awal kehidupan manusia memiliki koneksi yang amat padat. Banyak neuron saling terhubung dalam pola acak.
Seiring bertambahnya usia, jaringan yang semula padat dan tidak teratur tersebut berubah menjadi lebih jarang tetapi terstruktur. Hal ini terjadi karena proses pemangkasan atau pruning koneksi saraf.
Pemangkasan koneksi berlangsung usai lahir dan memicu penurunan konektivitas secara signifikan ketika memasuki fase remaja. Temuan ini menyanggah teori lama yang menganggap hipokampus mengawali fase hidupnya sebagai lembaran kosong atau tabula rasa.
"Dalam kesimpulannya, kami menemukan sistem ini bukanlah tabula rasa, seperti yang selama ini kami bayangkan, di mana informasi dapat begitu saja dituliskan hingga akhirnya memenuhi sistem," kata salah satu penulis studi, Peter Jonas, seorang ahli saraf dari Institute of Science and Technology Austria, dikutip dari Live Science, Sabtu (11/7/2026).
"Sebaliknya, sistem ini justru dimulai sebagai tabula plena (lembaran yang sudah terisi penuh), lalu secara bertahap menjadi lebih jarang tetapi dengan koneksi yang lebih spesifik," sambungnya.
Pola perubahan struktur inilah yang memicu minimnya ingatan manusia terhadap pengalaman masa kecil mereka. Memori sejatinya tersimpan dalam jaringan neuron yang aktif bersamaan saat merespon suatu kejadian.
Studi ini membuktikan bahwa hubungan antar-neuron atau sinaps pada otak muda bekerja dengan cara berbeda dibanding otak dewasa. Pada otak bayi, satu sinyal tunggal saja sudah mampu mengaktifkan sebuah neuron.
Kondisi sinaps yang sangat peka pada jaringan otak bayi menimbulkan konsekuensi tersendiri. Pengalaman berbeda dapat memicu pola aktivitas yang saling tumpang tindih karena neuron terlalu mudah aktif.
Tumpang tindih yang berlebihan membuat otak kesulitan memisahkan satu ingatan dari ingatan lainnya. Dampaknya, sistem saraf menghasilkan memori yang luas namun kurang spesifik, alih-alih membentuk jaringan memori yang terpisah.
Sistem penyimpanan ingatan pada fase awal kehidupan memang sangat aktif, tetapi belum memiliki presisi yang cukup. Seiring bertambahnya usia, neuron menjadi lebih selektif dan membutuhkan dorongan beberapa sinyal sekaligus agar dapat aktif.
Perkembangan tersebut membentuk jaringan saraf yang lebih terisolasi dan jelas, sehingga menghasilkan ingatan yang lebih spesifik serta stabil saat dewasa.
"Orang mungkin mengira bahwa pada tahap awal perkembangan, sinaps masih lemah dan belum berkembang dengan baik. Namun, yang kami temukan justru sebaliknya," tandas Jonas yang mengaku terkejut bersama timnya menemukan fakta ini.