Riset Ungkap Kelenjar Timus Deteksi Sel Kanker dan Tentukan Umur Panjang

Share

Asumsi dunia kedokteran selama beberapa dekade mengenai kelenjar timus kini berhasil dipatahkan oleh penemuan terbaru. Organ kecil sistem imun yang terletak di dada ini sebelumnya dianggap hanya berfungsi optimal pada masa kanak-kanak dan kehilangan peran setelah pubertas.

Dikutip dari Detik Health, riset terbaru dari Mass General Brigham yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature mengungkap fakta sebaliknya. Kelenjar timus ternyata memegang peran yang sangat krusial terhadap kesehatan orang dewasa, risiko penyakit berat, hingga menjadi penentu umur panjang seseorang.

Kelenjar timus berada di dalam rongga dada, tepatnya di belakang tulang dada dan di antara paru-paru. Fungsi utamanya adalah memproduksi sekaligus melatih sel T, sebuah jenis sel darah putih yang bertindak sebagai pasukan garda terdepan sistem imun untuk melawan infeksi dan mendeteksi sel kanker.

Ukuran kelenjar ini menyusut secara bertahap setelah melewati masa pubertas dan memproduksi lebih sedikit sel T baru. Kondisi inilah yang membuat banyak ilmuwan sebelumnya mengira bahwa perannya sangat terbatas pada usia dewasa.

"Kelenjar timus telah diabaikan selama berpuluh-puluh tahun. Organ ini mungkin menjadi potongan teka-teki yang hilang untuk menjelaskan mengapa proses penuaan setiap orang berbeda, dan mengapa pengobatan kanker gagal pada sebagian pasien," ujar Hugo Aerts, PhD, direktur Program Kecerdasan Buatan dalam Kedokteran (AIM) di Mass General Brigham dikutip dari Science Daily, Senin (1/6/2026).

Analisis Kesehatan Timus Berbasis Kecerdasan Buatan

Tim peneliti menggunakan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) untuk mengevaluasi hasil CT scan rutin dari 25.000 orang dewasa dalam uji coba skrining kanker paru-paru nasional. Evaluasi juga dilakukan terhadap 2.500 peserta dari Framingham Heart Study.

Ukuran, struktur, dan komposisi kelenjar timus diukur melalui AI untuk menentukan skor kesehatan timus seseorang. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa orang dewasa yang memiliki skor kesehatan timus tinggi terbukti mengalami penurunan risiko penyakit secara signifikan.

Data penelitian mencatat penurunan risiko meninggal dunia akibat penyebab apa pun sebesar 50%. Risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular berupa jantung dan pembuluh darah juga lebih rendah 63%, serta risiko terkena kanker paru-paru berkurang 36%.

Penurunan kesehatan kelenjar timus diyakini para peneliti dapat menurunkan keberagaman sel T. Dampaknya, sistem imun tubuh menjadi lebih sulit mengenali dan melawan ancaman baru, seperti pertumbuhan sel kanker atau infeksi kronis.

Pengaruh Terhadap Efektivitas Imunoterapi Kanker

Kondisi kelenjar timus juga ditemukan memengaruhi efektivitas pengobatan imunoterapi modern dalam studi terpisah terhadap 1.200 pasien kanker. Pasien dengan kondisi kelenjar timus yang lebih sehat menunjukkan respons yang jauh lebih baik terhadap pengobatan.

Kelompok pasien tersebut memiliki risiko 37% lebih rendah terhadap pemburukan kanker atau progression. Selain itu, mereka juga memiliki risiko kematian yang lebih rendah sebesar 44%.

Metode pemindaian AI untuk mengukur kesehatan timus ini memang belum diimplementasikan secara luas dalam praktik klinis sehari-hari. Namun, temuan tersebut membuka jalan baru dalam dunia medis untuk memantau daya tahan tubuh dan memprediksi risiko penyakit berbahaya sejak dini.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author