Rieke Diah Pitaloka Kembali Berakting Lewat Film Seni Merayu Tuhan

Share

Aktris senior Rieke Diah Pitaloka kembali meramaikan layar lebar lewat film Seni Merayu Tuhan dengan memerankan karakter Bu Halimah. Seperti dilansir dari Detik Hot, kesibukan sebagai anggota DPR RI tidak menghalanginya untuk menyalurkan bakat seni peran.

Aktivitas syuting menjadi sarana bagi Rieke untuk sejenak keluar dari rutinitas pekerjaan politik. Meskipun berstatus sebagai aktris senior, ia menegaskan tetap menjalani proses seleksi casting secara profesional.

"Ya, total. Ketika kita membaca naskah dan kita sudah komit lewat casting, saya casting juga sama, sekitar tiga kali sama dengan Ari begitu. Benar-benar mereka extraordinary dan saya di setiap peran selalu saya minta casting.

Saya nggak mau orang asal tunjuk begitu. Casting, barangkali sayanya merasa cocok dengan naskah dan semuanya, tapi mungkin kru dan terutama sutradara merasa nggak pas, itu saya nggak apa-apa. Yang penting ada proses itu," kata Rieke Diah Pitaloka di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan.

Politikus PDI Perjuangan ini selalu melepas identitas jabatan publiknya saat berada di lokasi pengambilan gambar. Pendalaman karakter dilakukan penuh tanpa membawa status maupun persoalan pribadi.

"Yang kedua adalah ketika memerankan suatu karakter, ya kita harus melepaskan semua atribut kita. Jadilah karakter melepaskan semua atribut kita. Jadilah karakter yang ada di dalam peran itu tanpa mengingat status kita apa, atau ada problem apa di rumah," ungkapnya.

Bagi Rieke, dunia seni peran menjadi tempat untuk menenangkan pikiran dari padatnya jadwal kerja sebagai wakil rakyat.

"Jadi kalau akhirnya buat saya kenapa tadi dikatakan 'kok syuting lagi?', itulah momen oasis bagi saya. Oasis untuk jeda sejenak melepaskan semuanya, semua pekerjaan yang hiruk-pikuk begitu di profesi saya sekarang. Saya menemukan dunia akting adalah jalan pulang selalu buat saya untuk lebih tenang," ujarnya.

Proses syuting film tersebut dilakukan saat masa reses DPR. Rieke memastikan seluruh kewajibannya sebagai wakil rakyat tetap berjalan beriringan.

"Tadi saya katakan cuma tiga hari syuting, dan itu saya ambil cuti reses. Dan satu masa reses itu, jadi setelah turun reses itu tidak langsung ke konstituen, tapi saya ketemu masyarakat, ada jeda, dan itu pun di sela-sela reses saya syuting sekitar tiga hari," bebernya.

Proses pendalaman karakter juga melibatkan interaksi langsung dengan jajaran pemain dan tim produksi sebelum jadwal pengambilan gambar dimulai.

"Tapi memang sebelumnya di dalam naskah itu ada pertemuan. Saya nggak bisa mereka datang ke rumah untuk sekadar kita discuss, untuk ada kedekatan emosional. Ari datang ke rumah saya, Kiki, semua kita.

Menurut saya ini suatu proses penting di dalam pendalaman karakter begitu. Jadi alhamdulillah karena ini syutingnya tidak lama begitu, jadi saya bisa menjalani semua proses dengan cukup baik, alhamdulillah," katanya.

Dalam alur cerita, Bu Halimah digambarkan sebagai seorang janda yang berjuang membesarkan anak laki-lakinya seorang diri. Karakter ini mencerminkan realitas yang dihadapi oleh banyak perempuan di Indonesia.

"Halimah adalah seorang janda yang tidak malu menjadi seorang janda dan bekerja keras untuk membesarkan anak laki-lakinya dengan sekuat tenaga. Suaminya meninggal. Dan menurut saya ini relevan dengan banyak perempuan PEKKA, Perempuan Kepala Keluarga.

Bagaimana membesarkan anak itu tidak mudah. Tapi setelah anak besar, kemudian 'kok mereka ninggalin gue ya? Gue nih ngidupin lu susah gitu ya, nggak gampang'," bebernya.

Peran tersebut memberikan pelajaran tersendiri bagi Rieke mengenai arti merelakan perkembangan anak yang mulai beranjak dewasa.

"Dan akhirnya kalau anak kayak gitu kita jadi sering marah, emosi. Tapi karena saya belajar dari Halimah, saya melihat bahwa oh ini sesuatu yang normal dalam fase kehidupan sesama manusia, seorang ibu. Meskipun memiliki pasangan, tetap saja ada kerinduan ketika anak beranjak dewasa begitu dan mereka punya dunia sendiri," ujarnya.

Film Seni Merayu Tuhan hadir sebagai sajian narasi yang relevan bagi para orang tua dan anak dalam memahami dinamika keluarga.

"Pokoknya harus nonton. Bukan hanya untuk anak-anak yang dari remaja meninggalkan orang tua, meninggalkan rumah, cari dunianya sendiri. Tapi terutama untuk perempuan-perempuan yang sedang dan selalu berjuang membesarkan anak-anak dengan cara yang luar biasa.

Kalian semua istimewa, kalian semua luar biasa. Jangan bersedih, anak tidak meninggalkan kita. Nasihat buat diri sendiri sebenarnya.

Anak tidak meninggalkan kita, tapi ini adalah suatu proses di mana yang belajar bukan hanya anak, tapi orang tua juga harus belajar merelakan," pungkasnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author