IDAI dan WHO Rekomendasikan Aturan Tekstur Serta Jadwal MPASI Bayi
Pemenuhan gizi untuk bayi yang telah menginjak usia 6 bulan tidak lagi dapat tercukupi jika hanya mengandalkan ASI. Oleh karena itu, pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) menjadi faktor krusial dalam menyokong tumbuh kembang anak secara prima.
Dikutip dari HaiBunda, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa pemberian makanan ini wajib mencakup beberapa aspek penting. Orang tua perlu memperhatikan jenis, takaran, frekuensi, hingga konsistensi dan tekstur makanan.
Langkah penyesuaian tekstur berguna untuk melatih kemampuan mengunyah serta mencegah terjadinya Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada anak. Berdasarkan data dari What to Expect, para pakar menyarankan pengenalan makanan pendamping dimulai dari usia 6 bulan secara bertahap.
Fase peralihan ini diawali dari bubur saring lembut, bubur kasar, makanan genggam (finger food), makanan lunak lauk cincang, hingga makanan keluarga. Porsi untuk bayi berumur 7 sampai 12 bulan berkisar antara 3 sendok makan hingga setengah mangkuk ukuran 250 ml.
World Health Organization (WHO) menganjurkan bayi usia 6–8 bulan dikasih makanan pendamping sebanyak 2–3 kali sehari. Frekuensi tersebut dapat ditambah menjadi 3–4 kali sehari ketika anak memasuki usia 9–11 bulan serta 12–24 bulan.
Pada masa usia 7 bulan, bayi sudah bisa mengonsumsi makanan yang dihaluskan atau semi padat. WHO menegaskan bahwa menu pertama anak tidak boleh terlalu encer karena kadar kalorinya cenderung rendah sehingga kurang mencukupi kebutuhan energi.
"Makanan yang pertama kali diberikan kepada bayi haruslah kental, tidak mudah jatuh dari sendoknya, dan mengandung lemak sehingga kalori makanan tersebut lebih tinggi dari kalori ASI," demikian bunyi rekomendasi tersebut seperti dikutip dari buku Kelas Bayi Nyam-Nyam Panduan Pemberian MPASI Sejak Hari Pertama Bayi Makan.
Ketika menginjak usia 8 bulan ke atas, fungsi mengunyah anak mulai berprogres sehingga tekstur hidangan dapat dibuat sedikit lebih kasar. Ibu dapat memberikan bubur atau puree yang bertekstur namun tetap lembut, biskuit, puding, atau kue khusus bayi.
Memasuki masa usia 9–10 bulan, kemampuan mengunyah anak umumnya semakin meningkat. Tekstur makanan pendamping dapat ditingkatkan menjadi lebih padat dan kental, tetapi wajib dipastikan agar tetap mudah dikunyah serta ditelan.
Saat bayi berada pada usia 11 bulan, mereka biasanya siap berpindah ke tekstur bubur kasar tanpa disaring. Ibu juga sudah dapat mengenalkan menu nasi tim yang bertekstur lembut dan agak lembek sebagai stimulasi sebelum mengonsumsi makanan keluarga.
Selanjutnya pada usia 12 bulan ke atas, mayoritas anak sudah sanggup menyantap makanan yang serupa dengan menu harian keluarga. Ibu harus tetap menjaga agar hidangan tersebut padat nutrisi, seperti daging merah, unggas, ikan, telur, dan produk susu.
Pentingnya Mengatur Jadwal Makan
Penerapan jadwal makan yang konsisten sejak awal masa MPASI dapat membantu sistem pencernaan anak beradaptasi dengan lebih baik. Sebaliknya, waktu pemberian makanan yang berantakan berisiko memicu gangguan pencernaan serta memicu defisit nutrisi.
Pihak IDAI menyebutkan bahwa aspek pemahaman bahasa tubuh anak sebagai indikator rasa lapar atau kenyang masih sering terlewatkan oleh orang tua. Padahal, pengenalan sinyal internal tersebut sangat penting bagi perkembangan anak.
Secara umum, dalam satu hari anak dianjurkan mendapatkan makanan utama sebanyak tiga kali dan makanan selingan sebanyak 1–2 kali. Sementara untuk konsumsi ASI atau susu disarankan tetap diberikan sebanyak 2–3 kali.
Contoh Jadwal MPASI Bayi Usia 7–8 Bulan
Pada jam 08.00, anak diberikan sarapan dengan menu makanan bertekstur lumat. Selanjutnya pukul 10.00, anak diberikan ASI atau camilan berupa buah bertekstur lembut.
Makan siang diberikan pada pukul 12.00 menggunakan makanan bertekstur lembut. Memasuki pukul 16.00 anak diberikan makanan selingan, lalu ditutup dengan makan malam menu lumat pada pukul 18.00.
Contoh Jadwal MPASI Bayi Usia 9–11 Bulan
Sarapan diberikan pukul 08.00 berupa makanan cincang halus, cincang kasar, atau finger food. Pukul 10.00, anak dapat mengonsumsi ASI atau camilan buah potong kecil.
Agenda makan siang jatuh pada pukul 12.00 dengan menu cincang atau finger food, diikuti makanan selingan pukul 16.00. Makan malam diberikan jam 18.00, lalu disusul pemberian ASI pada pukul 20.00, 22.00, dan 24.00.
Berdasarkan informasi dari buku MPASI Super Lengkap, orang tua juga diimbau untuk selalu waspada terhadap potensi reaksi alergi pada anak. Pemberian ASI sendiri tetap dianjurkan untuk diteruskan hingga anak genap berusia 1 tahun.