Kurangi Beban Finansial RANS Divestasi Klub Sepak Bola Jelang IPO
PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS) melakukan manuver strategis dengan mengeliminasi beban keuangan menjelang penawaran umum perdana atau IPO. Langkah ini diambil di tengah antrean panjang penjatahan saham perusahaan tersebut. Seperti dilansir dari Bloombergtechnoz, RANS memutuskan untuk menjual anak usahanya, PT Rans Prestisius Klub Sepak Bola (RPKSB).
Perusahaan melepas kepemilikan saham tersebut kepada Raffi Farid Ahmad pada akhir tahun 2024. Divestasi ini menjadi strategi penting bagi RANS untuk keluar dari kewajiban keuangan atau liabilitas bernilai jumbo. Melalui kesepakatan tersebut, Raffi Ahmad kemudian melunasi seluruh utang RPKSB kepada RANS pada tahun 2025.
Sebagai informasi, PT Rans Prestisius Klub Sepak Bola merupakan unit investasi yang mengelola klub Rans Nusantara FC. RANS memegang porsi saham mayoritas sebesar 66,6 persen di dalam klub sepak bola tersebut.
Sementara itu, sisa saham lainnya dimiliki oleh Rudy Salim Gunawan selaku Presiden Direktur Prestige Image Motorcars melalui PT Prestisius Indonesia. Kongsi bisnis antara Raffi Ahmad dan Rudy Salim ini dimulai sejak tahun 2021. Pada tahun 2021, mereka mengakuisisi klub Cilegon United dan mengubah namanya menjadi Rans Nusantara FC. Namun, sejak berdiri, unit bisnis olahraga dari dua tokoh ternama ini justru terus mencatatkan kerugian keuangan.
Laporan keuangan RANS menunjukkan bahwa RPKSB membukukan kerugian kotor sebesar Rp9,58 miliar sepanjang Januari hingga Oktober 2024 sebelum dilepas. Angka rugi periode berjalan bahkan membengkak menjadi Rp10,46 miliar setelah beban administrasi. Pendapatan pengelola klub pada periode tersebut hanya mencapai Rp7,33 miliar. Di sisi lain, beban pokok pendapatan membubung hingga Rp16,91 miliar, yang menyebabkan arus kas perusahaan tercatat negatif sebesar Rp4,28 milar.
Pengalihan saham ini diresmikan melalui akta notaris Sugih Haryati Nomor 77 tertanggal 30 Oktober 2024. RANS menjual 66,6 persen kepemilikan sahamnya kepada Raffi Ahmad dengan nilai transaksi sebesar Rp999 juta. RANS mencatatkan hasil keuntungan atau laba dari pelepasan unit bisnis ini sebesar Rp44,94 miliar.
Nilai tersebut merupakan keuntungan akuntansi karena perusahaan tidak lagi memikul liabilitas neto RPKSB yang melampaui total asetnya. Pada saat pelepasan saham, RPKSB mencatat nilai aset neto negatif sebesar Rp65,97 miliar. Jumlah utang atau liabilitas tercatat mencapai Rp79,31 miliar, sedangkan total aset yang dimiliki hanya sebesar Rp13,33 miliar.
Sebelumnya, RANS sempat menyalurkan fasilitas pinjaman modal kepada RPKSB dengan nilai total mencapai Rp73,7 miliar. Fasilitas ini didasarkan pada perjanjian pinjaman yang disepakati sejak tanggal 19 Mei 2021 beserta addendumnya.
Sesuai dokumen kesepakatan, masa pinjaman tersebut berlaku sampai tanggal 19 Mei 2026. Bunga yang ditetapkan mengacu pada Suku Bunga Bank Indonesia ditambah 1 persen per tahun, dengan syarat pihak kedua sudah meraup laba. Hak tagih utang RANS senilai Rp73,7 miliar itu akhirnya dialihkan kepada Raffi Ahmad lewat perjanjian pengalihan piutang pada 30 Oktober 2024.
Utang yang diambil alih tersebut telah diselesaikan pembayarannya pada tahun 2025. Langkah pembersihan neraca keuangan ini berjalan beriringan dengan target perusahaan untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Minat pasar terhadap saham emiten media dan hiburan ini tercatat sangat tinggi.
Data per 8 Juli 2026 menunjukkan antrean pemesanan saham IPO RANS menembus angka 1.092.166 Single Investor Identification (SID). Antusiasme yang masif dari para pemodal ini membuat penawaran saham mengalami kelebihan permintaan.
Proses penjatahan saham terjadwal berlangsung pada hari ini, yang kemudian diikuti oleh fase distribusi saham pada tanggal 9 Juli 2026. RANS dijadwalkan akan resmi memulai perdagangan perdana di BEI pada 10 Juli 2026.