Radhika Sapra Idap Kanker Ovarium Usai Gejala Nyeri Haid Diabaikan
Seorang perempuan asal India bernama Radhika Sapra didiagnosis mengidap kanker ovarium stadium 4 di usia 27 tahun setelah mengalami siklus menstruasi tidak normal dan nyeri hebat selama bertahun-tahun yang berulang kali diabaikan oleh dokter.
Kisah perjuangan pasien ini dilansir dari HaiBunda pada Jumat (5/6/2026), di mana gejala awal yang diyakininya sebagai hal normal ternyata merupakan tanda penyakit serius yang terlambat teridentifikasi.
Sejak masa remaja, Radhika mengalami pendarahan menstruasi selama 10 hingga 14 hari yang terjadi dua kali dalam sebulan, bahkan pembalut ukuran XL miliknya bisa basah kuyup hanya dalam waktu beberapa jam saja.
"Saya selalu mengalami nyeri haid yang hebat, sangat menyakitkan sehingga saya pingsan di sekolah, bukan hanya sekali, tetapi selama berhari-hari berturut-turut. Saya haid dua kali dalam sebulan dan pendarahannya akan berlanjut selama 10–14 hari. Saya mengalami pendarahan yang berlebihan, bahkan pembalut ukuran XL pun akan basah kuyup dalam waktu dua jam. Saya menemui dokter, tetapi mereka mengabaikan gejala saya selama bertahun-tahun," kata Radhika Sapra.
Kondisi kesehatan Radhika mengalami penurunan drastis ketika pandemi COVID-19 melanda, ditandai dengan muntah-muntah, kelelahan ekstrem, penyusutan berat badan secara cepat, hingga kesulitan untuk berjalan.
"Awalnya dimulai dengan kelelahan, muntah, dan penurunan berat badan yang cepat. Saya menjadi sangat lemah sehingga harus merangkak menuruni tangga. Kondisi saya memburuk dalam satu setengah bulan. Ayah saya meminta izin khusus dan datang menjemput saya. Rumah sakit segera memasukkan saya ke ICU. Kondisi saya sangat buruk sehingga mereka mengatakan saya mungkin mengalami serangan jantung kapan saja," tutur Radhika Sapra.
Pemeriksaan menyeluruh di rumah sakit akhirnya mengungkap adanya kanker ovarium stadium lanjut yang bersarang di tubuhnya akibat penanganan yang terlambat.
"Kanker ovarium memang pantas disebut pembunuh diam-diam karena banyak gejala awalnya diabaikan atau disalahartikan sebagai masalah menstruasi atau lambung biasa," sambung Radhika Sapra.
Berdasarkan data American Cancer Society, kanker ovarium mayoritas bersumber dari sel epitel ovarium dan kerap disebut silent disease karena kemiripan gejalanya dengan gangguan pencernaan atau masalah menstruasi.
Penelitian dalam jurnal CA: A Cancer Journal for Clinicians juga mencatat penyakit ini memiliki angka kematian tertinggi di lingkup ginekologi karena umumnya baru terdeteksi setelah mencapai stadium akhir.