PTBA Uji Coba Co-Firing Tahap II di PLTU Banko Barat

Share

PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) melaksanakan uji coba co-firing tahap II di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang Banko Barat, Tanjung Enim, pada Selasa (16/6/2026), dengan meningkatkan pencampuran porsi biomassa bersama batu bara, dilansir dari Bloomberg Technoz. Langkah ini dilakukan memanfaatkan pelet kayu Kaliandra Merah sebesar 2 persen serta biomassa campuran dari tanaman pulai, akasia, dan puspa sebesar 3 persen. PLTU Mulut Tambang Banko Barat sendiri merupakan fasilitas milik perseroan yang memiliki kapasitas daya sebesar 3×10 megawatt (MW).

Peningkatan jenis dan volume biomassa pada fase ini tercatat lebih besar daripada pengujian pertama. Pada tahap sebelumnya, perusahaan hanya menggunakan biomassa hasil pembersihan lahan atau land clearing sebesar 1 persen dengan parameter uji yang sama.

Mine Development Department Head PTBA Ferry Fadri Al Ilham menjelaskan bahwa operasional pengujian ini berjalan lancar tanpa kendala teknis. Proses tersebut sama sekali tidak membutuhkan perubahan pada konstruksi maupun sistem utama pembangkit yang telah ada.

"Uji coba ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan PTBA untuk mengoptimalkan pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi pendamping batu bara. Hasilnya akan menjadi dasar evaluasi dalam pengembangan implementasi co-firing ke depan," kata Ferry dalam siaran pers, Selasa (16/6/2026). Pihak pengelola operasional memastikan keandalan sistem pembangkit tidak mengalami penurunan. Penggunaan infrastruktur yang sudah ada tetap dipertahankan karena kecocokan teknologi pada sistem pembakaran.

Direktur PT Bukit Energi Servis Terpadu (PT BEST) Zulkurniadi menambahkan, implementasi co-firing tidak mengubah sistem operasional PLTU yang sudah berjalan. Penggunaan boiler tipe circulating fluidized bed (CFB) yang dimiliki PLTU Banko Barat menjadi faktor pendukung utama kelancaran pasokan energi tersebut. Zulkurniadi menyatakan meskipun biomassa memiliki nilai kalor yang lebih rendah dibandingkan dengan batu bara, performa dan keandalan pembangkit tetap terjaga. Karakteristik tanaman Kaliandra Merah dinilai menguntungkan karena mampu menyerap karbon dioksida serta menghasilkan biomassa dengan nilai kalor di atas 4.300 kilokalori per kilogram untuk mendukung pembakaran.

Secara nasional, penerapan teknologi pencampuran ini terus mengalami pertumbuhan masif di berbagai wilayah Indonesia. Kementerian ESDM mencatat sebanyak 47 PLTU telah mengadopsi pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar pendamping hingga Oktober 2025. Volume biomassa yang berhasil diserap melalui teknologi pemanfaatan ini dilaporkan menyentuh angka 1,8 juta ton.

Pasokan tersebut kemudian sukses memproduksi energi listrik bersih sekitar 1,78 juta megawatt hour (MWh). “Langkah ini menunjukkan kemajuan yang signifikan, di mana pada tahun 2020 hanya 6 pembangkit yang melakukan co-firing. Pada saat ini, sampai akhir Oktober 2025, jumlahnya melonjak menjadi 47 pembangkit,” kata Plt. Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Komisi XII DPR, Kamis (13/11/2025).

Berdasarkan data terkini per April 2026, kapasitas terpasang dari Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLBm) nasional mencapai 3,67 gigawatt (GW) atau setara 3 persen dari total pembangkit RI. Sementara itu, porsi listrik dari PLTU batu bara masih mendominasi sektor ketenagalistrikan nasional dengan porsi 56 persen atau sebesar 60,53 GW.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author