Psikologi di Balik Kebiasaan Menggigit Kuku dan Cara Menguranginya

Share

Kebiasaan menggigit kuku sering dianggap sepele, namun dalam psikologi, perilaku ini memiliki kaitan dengan kondisi emosional dan karakter seseorang, seperti dilansir dari HaiBunda.

Istilah medis untuk kebiasaan ini adalah onychophagia, yang mencakup menggigit atau mengunyah kuku tangan maupun kaki. Bila dilakukan berulang sebagai respons terhadap stres atau tekanan emosi, kebiasaan ini dapat merusak kuku serta meningkatkan risiko infeksi.

Meski belum ada tipe kepribadian khusus yang pasti dimiliki oleh orang yang menggigit kuku, penelitian menunjukkan kecenderungan perfeksionis sering terkait dengan perilaku ini. Individu perfeksionis biasanya memiliki standar tinggi dan rendah toleransi terhadap kebosanan atau frustrasi, sehingga menggigit kuku bisa menjadi cara meredakan ketegangan.

Selain kepribadian, faktor pemicu kebiasaan ini meliputi stres, kecemasan, kebosanan, tekanan emosional, dan meniru orang di sekitar, terutama pada anak-anak. Lingkungan keluarga juga bisa berperan dalam munculnya perilaku ini.

Stres dan kecemasan sering menjadi alasan di balik kebiasaan ini karena memberikan efek menenangkan sementara. Tekanan emosional seperti rasa malu, rendah diri, atau pengalaman berat seperti kehilangan orang terdekat juga dapat memicu.

Kebosanan menyebabkan beberapa orang menggigit kuku sebagai cara mengalihkan perhatian atau mengisi waktu kosong. Anak-anak juga dapat meniru kebiasaan ini dari orang dewasa di sekitarnya.

Kebiasaan Menggigit Kuku dan Gangguan Mental

Kebiasaan ini tidak selalu menunjukkan gangguan mental. Namun, jika menimbulkan tekanan psikologis signifikan dan mengganggu aktivitas sehari-hari, dapat tergolong dalam body-focused repetitive behavior disorder (BFRB) menurut DSM-5.

Pada anak-anak, kebiasaan ini kadang terkait dengan gangguan seperti ADHD, kecemasan perpisahan, gangguan perilaku menentang, gangguan tic, atau OCD, meskipun tidak semua anak dengan kebiasaan ini memiliki kondisi tersebut.

Cara Mengurangi Kebiasaan Menggigit Kuku

Langkah pertama adalah mengenali pemicu kebiasaan tersebut, apakah stres, cemas, atau bosan. Mengalihkan kebiasaan dengan aktivitas lain seperti meremas bola antistres bisa efektif.

Memotong kuku agar tetap pendek, menggunakan cat kuku berasa pahit, atau penghalang fisik seperti plester juga membantu mengurangi keinginan menggigit.

Pengelolaan stres dengan teknik relaksasi dan olahraga dapat menurunkan dorongan menggigit kuku. Penguatan positif, khususnya pada anak, dinilai lebih efektif dibandingkan memarahi.

Jika kebiasaan sudah menyebabkan luka atau infeksi, serta sulit dihentikan meski sudah berusaha, konsultasi dengan tenaga kesehatan atau profesional kesehatan mental dianjurkan. Terapi seperti cognitive behavioral therapy (CBT) dan habit reversal training (HRT) dapat membantu mengidentifikasi pemicu dan melatih kebiasaan pengganti yang lebih sehat.

Penggunaan obat atau suplemen masih terbatas manfaatnya dan harus berdasarkan anjuran dokter.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author