Psikolog Ungkap Kepribadian Orang yang Sering Mengganti Foto Profil
Media sosial kini menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari untuk berbagi aktivitas dan mengekspresikan diri melalui foto profil. Dilansir dari HaiBunda, kebiasaan seseorang saat memilih atau memperbarui foto profil ternyata bisa mencerminkan kondisi psikologis serta kepribadiannya.
Sebagian orang merasa nyaman sehingga jarang mengubah foto profil mereka. Namun, ada juga individu yang rutin memperbarui foto profil setiap kali memiliki foto baru atau saat mengikuti suasana hati tertentu.
Dalam sudut pandang psikologi, intensitas mengganti foto profil ini berkaitan erat dengan gambaran rasa percaya diri hingga kebutuhan akan validasi sosial. Kreator konten psikologi dan filsafat bernama Heem mengungkapkan bahwa kebiasaan ini berhubungan dengan kondisi identitas diri seseorang.
Melalui akun TikTok @heemmentality, Heem menyebutkan bahwa individu yang terlalu sering memperbarui foto profil kemungkinan sedang mencari bentuk identitas yang paling sesuai. Sebaliknya, orang dengan identitas diri yang kuat biasanya tidak merasa perlu terus-menerus mengubah citra diri di media sosial.
Kebiasaan sering berganti foto profil juga dinilai berkaitan dengan rasa kurang percaya diri, kebutuhan validasi, serta pandangan terhadap diri sendiri yang labil. Dalam psikologi kepribadian, kondisi ini kerap dikaitkan dengan neurotisisme.
Neurotisisme merupakan kecenderungan seseorang untuk lebih sensitif terhadap emosi negatif dan penilaian sosial. Pandangan ini sejalan dengan pernyataan psikolog sekaligus life coach Francesca.
Francesca memaparkan bahwa terlalu sering mengganti foto profil bisa menjadi tanda seseorang belum memiliki identitas diri yang kuat dan masih kurang percaya diri. Meski demikian, ia menegaskan hal ini tidak selalu bermakna buruk karena setiap orang punya cara berbeda dalam berekspresi.
Hasil Penelitian University of Pennsylvania
Hubungan antara foto profil media sosial dan tipe kepribadian juga pernah diteliti oleh University of Pennsylvania. Studi tersebut menganalisis foto profil pengguna Twitter atau X berdasarkan Big Five Personality Traits.
Hasil riset menunjukkan bahwa individu dengan tingkat neurotisisme tinggi cenderung menggunakan foto yang sederhana. Karakteristik visualnya biasanya kurang berwarna dan memiliki komposisi yang lebih minim.
Walau begitu, sifat neurotisisme tidak selalu bermakna negatif. Karakter ini juga dapat membuat seseorang menjadi lebih peka terhadap situasi di sekitar mereka serta peka terhadap ancaman sosial.
Kebiasaan mengganti foto profil menjadi bagian dari cara seseorang membangun citra diri dan mengekspresikan emosi di dunia digital. Fenomena ini bisa memberi gambaran tertentu, namun bukan satu-satunya tolok ukur untuk menilai kondisi psikologis seseorang secara keseluruhan.