Pemerintah Alokasikan Anggaran Subsidi Energi Rp 272,9 Triliun pada 2027
Pemerintah merencanakan alokasi anggaran subsidi energi sebesar Rp 272,9 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 pada Selasa (18/8/2026). Nilai tersebut melonjak sekitar 20,1 persen dibandingkan proyeksi anggaran tahun 2026 yang sebesar Rp 227,25 triliun, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Pengalokasian dana subsidi energi mencakup tiga komoditas utama, yaitu bahan bakar minyak (BBM), LPG tabung 3 kg, dan listrik. Porsi subsidi BBM dipatok sebesar Rp 28,7 triliun, subsidi LPG 3 kg dialokasikan senilai Rp 114,1 triliun, sedangkan subsidi listrik mendapatkan porsi terbesar mencapai Rp 130,1 triliun.
"Pada RAPBN tahun anggaran 2027, subsidi energi direncanakan sebesar Rp 272.945,3 miliar (Rp 272,9 triliun) atau meningkat sebesar 20,1% apabila dibandingkan dengan outlook tahun 2026 sebesar Rp 227.258,1 miliar (Rp 227,25 triliun)," tulis dokumen Buku II Nota Keuangan beserta RAPBN 2027.
Perhitungan anggaran subsidi BBM dan LPG 3 kg tersebut didasarkan pada sejumlah asumsi parameter, seperti nilai tukar rupiah, harga minyak mentah Indonesia (ICP), serta subsidi tetap solar sebesar Rp 1.000 per liter. Volume penyaluran solar ditargetkan 19.558,5 ribu kiloliter, minyak tanah 539 ribu kiloliter, dan LPG 3 kg sebanyak 8.945 juta kg.
Peningkatan biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik serta lonjakan volume listrik bersubsidi menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan anggaran subsidi listrik.
"Kenaikan BPP tersebut disebabkan antara lain oleh: (1) perubahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS; (2) perubahan harga minyak mentah (ICP) akibat konflik geopolitik global; dan (3) peningkatan produksi pada pembangkit gas," terang dokumen tersebut.
Tren penyaluran BBM solar terus meningkat sejak 2022 yang tercatat 17,6 juta kiloliter hingga mencapai 18,4 juta kiloliter pada 2025, dengan kuota 2026 diperkirakan 18,6 juta kiloliter. Penyaluran minyak tanah juga naik dari 488,5 ribu kiloliter pada 2022 menjadi 507,8 ribu kiloliter pada 2025, dengan proyeksi kuota 2026 sebesar 526 ribu kiloliter.
Penyaluran LPG 3 kg turut mencatatkan kenaikan dari 7,8 juta metrik ton pada 2022 menjadi 8,5 juta metrik ton pada 2025, sementara kuota 2026 diperkirakan 8 juta metrik ton. Realisasi subsidi listrik selama 2022–2025 rata-rata melonjak 12,9 persen dari Rp 56,24 triliun menjadi Rp 81,03 triliun, dan diproyeksikan menyentuh Rp 110,41 triliun pada 2026.
"Perkembangan Subsidi Listrik terutama dipengaruhi oleh harga minyak mentah Indonesia, nilai tukar Rupiah, volume listrik bersubsidi, dan pembayaran kekurangan subsidi tahun sebelumnya," tulis dokumen tersebut.