Memahami Prosedur Pembekuan Sperma untuk Menjaga Kesuburan Pria

Share

Pembekuan sperma atau sperm freezing menjadi salah satu jalan keluar medis guna mengatasi persoalan kesuburan pada pria. Langkah ini diambil sebagai metode untuk memelihara kualitas sel sperma agar dapat dipergunakan di masa mendatang, dilansir dari HaiBunda.

Prosedur ini kerap dipilih oleh para pria sebagai bentuk investasi atau cadangan perawatan kesuburan. Selain itu, metode pembekuan ini juga sering dimanfaatkan sebagai langkah antisipasi sebelum melakukan vasektomi atau bagi mereka yang mengkhawatirkan penurunan tingkat kesuburan seiring bertambahnya usia.

Metode sperm freezing ini dinilai sebagai langkah tepat untuk menjaga kesuburan, khususnya bagi pasien yang sedang menjalani pengobatan kanker atau terapi hormon. Di samping untuk kepentingan pribadi, simpanan sperma ini juga dapat didonorkan kepada pihak lain yang membutuhkan perawatan.

Bagi sperma yang hendak didonasikan, terdapat prosedur karantina selama tiga hingga enam bulan. Proses karantina ini disertai dengan pemeriksaan infeksi secara menyeluruh sebelum sampel dapat digunakan oleh penerima donor, di mana durasinya bergantung pada jenis skrining di rumah sakit.

Keputusan untuk menjalani pembekuan sperma umumnya didasari oleh riwayat kesehatan maupun kondisi medis tertentu. Terdapat beberapa faktor utama yang membuat seorang pria disarankan melakukan prosedur ini.

Faktor pertama adalah adanya kondisi kesehatan atau perawatan medis spesifik yang berpotensi merusak kesuburan. Selanjutnya, pria yang memilih vasektomi namun tetap ingin memiliki peluang mempunyai keturunan di kemudian hari juga kerap mengambil opsi ini.

Prosedur ini juga ditujukan bagi pria yang memiliki kuantitas sperma rendah atau kualitas yang kurang prima. Masalah kesulitan dalam memproduksi sampel sperma segar saat menjalani program kehamilan, serta adanya risiko cedera hingga kematian dalam pekerjaan berisiko tinggi seperti militer, turut menjadi alasan penguat.

Cara Kerja dan Proses Laboratorium

Sebelum sampel sperma diambil, pasien wajib melalui tes penyakit menular, termasuk HIV dan hepatitis. Pemeriksaan ini krusial guna memastikan sampel yang terinfeksi disimpan di wadah terpisah demi mencegah kontaminasi silang.

Setelah melengkapi persetujuan tertulis terkait durasi penyimpanan, pasien akan menyerahkan sampel sperma segar di klinik atau rumah sakit. Sampel tersebut dicampur cairan khusus untuk meminimalisasi kerusakan, lalu dibagi ke beberapa wadah sebelum didinginkan perlahan dan dimasukkan ke nitrogen cair.

Prosedur ini tergolong aman dan minim risiko bagi pasien maupun keturunan yang dihasilkan kelak. Kendati demikian, tantangan utamanya adalah tidak seluruh sel sperma mampu bertahan hidup melewati proses pembekuan dan pencairan kembali.

Kekhawatiran mengenai penurunan kualitas dalam penyimpanan jangka panjang masih terus diteliti. Sejauh ini belum ada bukti yang memastikan apakah penyimpanan gamet dan embrio dalam durasi yang sangat lama memberikan dampak buruk pada kelangsungan hidupnya.

Teknis Pembekuan dan Analisis Suhu

Dalam proses teknisnya, ahli andrologi menempatkan sperma ke dalam larutan pelindung khusus di tabung kecil. Tabung-tabung tersebut disimpan di dalam pembeku khusus yang memanfaatkan nitrogen cair.

"Sperma harus tetap beku pada suhu konstan minus 196 derajat Celcius," kata ahli urologi Amin Herati selaku director of Male Infertility and Men Health Clinic at Brady Urological Institute, dikutip dari laman Hopkins Medicine.

Sampel milik pasien diletakkan secara terpisah di beberapa tangki penyimpanan guna mengantisipasi jika salah satu mesin mengalami kerusakan. Sel sperma pada dasarnya dapat disimpan dalam kondisi membeku tanpa batasan waktu tertentu.

Saat hendak dipakai, sperma akan dicairkan di laboratorium hingga mencapai suhu ruangan. Pemeriksaan lanjutan segera dilakukan untuk melihat pergerakan sel tersebut.

"Setelah dicairkan, sperma dianalisis untuk memastikan masih ada sperma yang motil dan aktif," kata Herati.

Secara statistik, sekitar setengah hingga dua pertiga bagian sperma kemungkinan mati selama siklus beku-cair ini. Namun, sel sperma yang berhasil bertahan didapati punya keunggulan lebih besar dalam memicu kehamilan pada program bayi tabung atau IVF.

Estimasi Biaya dan Aturan Penyimpanan

Komponen biaya untuk tindakan pembekuan sperma ini cukup beragam. Biaya awal biasanya mencakup proses pengumpulan serta analisis sperma, yang kemudian diikuti oleh biaya perawatan berkala.

Untuk biaya penyimpanan rutin, estimasi dana yang diperlukan berkisar antara US$100 hingga US$500 per tahunnya. Pasien disarankan melakukan konsultasi mendalam dengan dokter serta pihak penyedia asuransi terkait kesiapan biaya ini.

Prosedur pembekuan sperma ini mutlak tidak dapat dikerjakan secara mandiri di lingkungan rumah karena membutuhkan pengawasan kualitas laboratorium yang ketat. Lemari es rumah tangga umumnya hanya mencapai suhu minus 18 derajat Celcius, sangat jauh dari standar penyimpanan ideal sedalam minus 196 derajat Celcius.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author