Presiden Jerman Peringatkan Ancaman Serius Terhadap Tatanan Global
Tatanan global yang berlandaskan aturan saat ini sedang menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Situasi tersebut memicu desakan kuat untuk segera melakukan reformasi pada tubuh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Kekhawatiran ini disampaikan oleh Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier, saat membuka Konferensi Keberlanjutan Hamburg. Seperti dilansir dari Detikcom yang mengutip Anadolu Agency, Selasa (30/6/2026), Steinmeier menyerukan pentingnya komitmen global baru demi memperkuat kerja sama multilateral.
Menurut Steinmeier, dunia kini tengah bergerak ke dalam fase di mana norma-norma internasional yang telah bertahan selama beberapa dekade mulai goyah. Ia menilai ada kecenderungan dari sejumlah negara kuat untuk mengabaikan kesepakatan bersama demi ambisi sepihak.
"Kita hidup di masa ketika aturan internasional yang telah menjadi pedoman kita selama beberapa dekade sedang terancam, ketika sejumlah negara kuat tidak lagi mengakui aturan-aturan tersebut, dan secara terang-terangan melanggarnya ketika aturan itu menghalangi kepentingan kekuasaan mereka sendiri," kata Steinmeier dalam pidatonya, sebagaimana dilaporkan harian Suddeutsche Zeitung.
Lebih lanjut, pemimpin Jerman tersebut menyoroti pergeseran dalam panggung politik internasional. Hubungan antarnegara kini lebih banyak diwarnai oleh konfrontasi dan pola pikir yang saling menjatuhkan, menggantikan sistem kerja sama yang menjadi fondasi awal tatanan dunia.
"Semangat kebrutalan dan kekejaman sedang melanda kancah politik internasional," ujarnya.
Kendati ketegangan geopolitik terus meningkat, Steinmeier mengingatkan agar negara-negara di dunia tidak meninggalkan jalur diplomasi bersama. Langkah mundur dari lembaga multilateral dinilai bukan solusi yang tepat atas krisis saat ini.
"Menarik diri dari Perserikatan Bangsa-Bangsa merupakan tindakan yang berpandangan pendek dan fatal," ucapnya.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa PBB harus segera berbenah agar tetap relevan. Institusi internasional ini dituntut untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kinerjanya dalam menyelesaikan berbagai persoalan dunia.
"Kendati demikian, PBB harus berbenah, harus menjadi lebih efisien dan efektif, harus membuktikan kemampuannya dalam menghasilkan capaian yang lebih baik dibandingkan para pemimpin otoriter yang terobsesi dengan fantasi kekuasaan mutlak," cetus Steinmeier.