Prabowo Subianto Meresmikan Mandatori Biodiesel B50 di Karawang
Presiden Prabowo Subianto meresmikan mandatori pencampuran fatty acid methyl esther (FAME) 50% dengan bahan bakar minyak jenis diesel atau biodiesel B50 pada Kamis (9/7/2026). Peresmian kebijakan tersebut dilakukan di Rest Area KM 57, Karawang, Jawa Barat, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz.
Penerapan mandatori biodiesel B50 ini menjadikan Indonesia resmi sebagai negara pertama di dunia yang mengimplementasikan kebijakan tersebut. Kebijakan ini disebut telah dinantikan oleh Kepala Negara bahkan sebelum dirinya dilantik pada Oktober 2024 lalu demi mengejar kemandirian energi.
"Dari sejak saya belum dilantik sampai saya dilantik, saya menuntut kemandirian energi. B40 tidak cukup, bahkan pada saat itu saya mendorong ke arah B100. Namun menteri-menteri saya meyakinkan saya, ‘Pak, dengan B50 saja kita sudah tidak impor solar lagi dari luar negeri’," ujar Prabowo, Kamis (9/7/2026).
Indonesia dinilai memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, termasuk cadangan panas bumi, batu bara, dan gas yang besar. Kendati demikian, Prabowo menyoroti adanya kelemahan pemimpin di dalam negeri yang kurang menghargai prestasi dan menyamakan perilaku masyarakat seperti bangsa kepiting yang suka menarik temannya saat berhasil memanjat lebih tinggi.
Di samping itu, kelakar juga dilontarkan oleh Kepala Negara agar orang-orang kaya tidak perlu merasa cemas terhadap kenaikan harga BBM nonsubsidi. Sejumlah tokoh dan konglomerat turut hadir dalam agenda tersebut, termasuk Garibaldi Thohir, Arsjad Rasjid, hingga Rosan Perkasa Roeslani.
Sorotan lain juga diarahkan kepada kegagalan Indonesia dalam kualifikasi Piala Dunia 2026, di mana Presiden menyentil Garibaldi Thohir yang merupakan kakak dari Menteri Pemuda dan Olahraga.
"Siapa bertanggung jawab? Mana Erick Thohir? Boy, kasih tahu adikmu ya.
Aduh aduh aduh. Mana Menteri Keuangan [Purbaya Yudhi Sadewa]? Apa yang diperlukan supaya kita bisa masuk Piala Dunia?," ujarnya.
Program mandatori biodiesel itu sendiri merupakan keberlanjutan kebijakan yang telah dirintis sejak tahun 2008 pada masa pemerintahan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, lalu dilanjutkan oleh Presiden ke-7 Joko Widodo hingga kabinet saat ini. Prabowo menyatakan bahwa dalam prosesnya selalu ada pihak-pihak yang mencaci atau bertindak seperti tokoh Kurawa dalam kisah Mahabharata.