Prabowo Kenalkan Penerima Bantuan Pemerintah Saat Sidang Bersama DPR
Presiden Prabowo Subianto mengenalkan sejumlah warga penerima program bantuan pemerintah dalam Sidang Tahunan dan Sidang Bersama MPR, DPR, dan DPD RI di Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Para penerima manfaat yang dihadirkan di antaranya adalah Susanah, seorang buruh pengupas bawang asal Kabupaten Bogor, serta Joko Purnomo, ketua kelompok tani pengelola pupuk bersubsidi dari Ngawi.
Dalam pidatonya, Prabowo secara khusus menyoroti peran Program Keluarga Harapan (PKH) dan program sembako dalam menopang kehidupan ekonomi keluarga Susanah di Jawa Barat.
"Hari ini, hadir bersama kita Ibu Susanah dari Kabupaten Bogor. Ia bekerja sebagai buruh harian, mengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram. Program Keluarga Harapan dan program sembako membantu menjaga pendidikan anak-anaknya," kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.
Selain Susanah, nama Joko Purnomo turut disebut oleh Presiden berkat keberhasilannya mengelola distribusi pupuk bersubsidi dan menggerakkan ekonomi desa di Ngawi melalui Poktan Sri Makmur. Melalui pengelolaan yang efektif, kelompok tani tersebut kini mampu memproduksi hingga 9 ton gabah per hektare dengan frekuensi panen tiga kali setahun.
Joko menceritakan bahwa dorongannya untuk terlibat dalam pengelolaan kelompok tani bermula dari latar belakang keluarganya sebagai petani sejak lahir.
"Kalau dikatakan menjadi petani kapan, sebenarnya kami lahir jadi anak petani. Jadi kami jadi petani ini mulai lahir," tutur Joko Purnomo, Ketua Poktan Sri Makmur.
Awal kepemimpinannya di kelompok tani dimulai pada tahun 2006 saat ia menghadiri musyawarah warga dan ditunjuk sebagai ketua tanpa persiapan matang.
"Yang harus ke mana dan ngomong apa ini tidak ngerti," kenang Joko Purnomo, Ketua Poktan Sri Makmur.
Pengalaman tersebut mendorong Joko untuk mempelajari tata kelola pertanian hingga akhirnya memutuskan menjadi penyalur pupuk resmi guna meringankan beban biaya produksi rekan-rekannya.
"Sudah bertani itu berat, memikirkan pupuknya jadi semakin berat saja," ujar Joko Purnomo, Ketua Poktan Sri Makmur.
Perbedaan harga yang signifikan antara pupuk nonsubsidi dan subsidi menjadi alasan utama Joko memperjuangkan akses pupuk murah bagi para petani di daerahnya.
"Kalau kita beli non-subsidi itu harganya bisa tembus sampai Rp400 ribu. Kalau kita beli subsidi Rp90 ribu, itu betul-betul terasa sekali perbedaan pupuk subsidi dan nonsubsidi," kata Joko Purnomo, Ketua Poktan Sri Makmur.
Dukungan pemerintah dalam bentuk bantuan alat berat dan ketersediaan pupuk dinilai Joko sangat membantu mempercepat masa tanam serta menjaga kepastian harga jual panen.
"Harapan pemerintah hari ini support yang ada, alhamdulillah telah sampai kepada kami. Pupuknya mudah, harga gabahnya ditentukan. Petani dipermudah dengan bantuan alat-alat berat yang ini sangat membantu daripada percepatan tanam di kami," ujar Joko Purnomo, Ketua Poktan Sri Makmur.
Keuntungan dari unit usaha kios pupuk bersubsidi tersebut disisihkan oleh kelompok tani untuk membangun fasilitas depot air minum gratis yang dimanfaatkan oleh warga sekitar.
"Seharianya bisa membantu warga untuk air, minum, kebutuhan setiap hari, insya Allah," kata Joko Purnomo, Ketua Poktan Sri Makmur.
Sistem pengisian air minum gratis tersebut dijalankan secara mandiri dengan partisipasi sukarela dari warga yang memanfaatkannya.
“Tidak disuruh mengisi pun masyarakat ini ada antusias. Ada yang isi Rp2 ribu, ada yang isi Rp5 ribu,” kata Joko Purnomo, Ketua Poktan Sri Makmur.
Untuk menjaga kualitas air, fasilitas depot air minum tersebut rutin dibersihkan dua pekan sekali dengan biaya operasional harian yang terjangkau sebesar Rp3.000.