Prabowo Sebut Danantara Kelola Devisa Ekspor US$ 14 Miliar
PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) mencatat pengelolaan devisa ekspor mencapai US$ 14 miliar atau sekitar Rp 249,2 triliun sejak resmi beroperasi pada 1 Juni 2026. Capaian dari pengelolaan tiga komoditas sumber daya alam strategis ini disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Tahunan MPR RI di Jakarta, Jumat (14/8/2026), dilansir dari Detik Finance.
Pengelolaan devisa ekspor tersebut mencakup komoditas batu bara, kelapa sawit beserta produk turunannya, serta paduan besi atau ferro alloy. Selain mengelola hasil ekspor, lembaga ini telah memantau lebih dari 6.000 transaksi pengiriman barang ke luar negeri.
"Sejak beroperasi 1 Juni 2026 hanya dengan 3 komoditas, batu bara, kelapa sawit, dan besi baja, 2 bulan 13 hari DSI mengelola devisa ekspor US$ 14 miliar dari 3 komoditas strategis," ujar Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.
Dari hasil pemantauan transaksi tersebut, pengawasan yang dilakukan DSI juga berhasil mengidentifikasi potensi penerimaan negara dalam jumlah besar yang berasal dari penyesuaian transaksi pembayaran ekspor.
"DSI telah menemukan potensi tambahan US$ 5 miliar hanya dari perbedaan dan penyesuaian harga dari pembayaran devisa hasil ekspor. Bayangkan kalau dalam waktu yang akan datang semua komoditas ekspor kita akan dimonitor dan dikelola oleh DSI, berapa peningkatan hasil yang akan masuk negara," tambah Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.
Guna memaksimalkan pengawasan, pemerintah berencana memperluas cakupan pemantauan DSI hingga ke 50 pelabuhan yang tersebar di 25 provinsi di seluruh Indonesia. Langkah ini diambil untuk memastikan seluruh komoditas ekspor strategis dikelola secara mandiri demi kesejahteraan masyarakat.
"DSI akan mengelola semua komoditas ekspor strategis kita, tidak hanya tiga. Kita tidak ingin lagi bangsa Indonesia dicurangi. Kekayaan Indonesia tidak boleh memperkaya segelintir orang dan meninggalkan rakyat kita hidup susah.
Ini bukan saja tidak adil, ini bukan sikap negara yang pandai. Barang kita, milik kita, orang lain yang tentukan harganya," katanya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.