Pola Minum ASI Bayi Berubah Saban Hari, Ini Penjelasan Ahli
Perubahan pola minum ASI pada bayi baru lahir kerap memicu kekhawatiran orang tua. Kondisi bayi yang menyusu sangat sering pada satu hari lalu berkurang drastis keesokan harinya sebenarnya tergolong wajar. Dilansir dari HaiBunda, fluktuasi pola makan, tidur, dan aktivitas bayi sangat bergantung pada kebutuhan serta nafsu makan masing-masing.
Orang tua disarankan tetap menyusui secara on demand atau sesuai kebutuhan bayi. Pakar kesehatan mengelompokkan beberapa faktor utama yang membuat bayi baru lahir ingin terus menyusu sepanjang hari. Fase pertumbuhan pesat atau growth spurt menjadi salah satu pemicu utamanya.
Kapasitas lambung bayi yang masih kecil akan terus berkembang seiring bertambahnya usia. Kebutuhan ASI bertambah secara bertahap mulai dari rentang usia 3 hari hingga memasuki bulan kedua.
Periode 7-10 hari pertama, minggu ke-2 hingga ke-3, serta minggu ke-4 hingga ke-6 menjadi masa percepatan pertumbuhan. Kebutuhan energi yang meningkat pesat pada fase ini membuat bayi meminta ASI lebih sering. Faktor lain yang memicu bayi ingin terus menyusu meliputi kemampuan mengisap yang belum optimal. Kendala ini kerap dialami bayi prematur, bayi dengan masalah tongue-tie, sariawan, atau infeksi jamur mulut.
Asupan ASI yang sedikit dalam satu sesi membuat bayi cepat merasa lapar kembali. Selain itu, produksi ASI ibu yang belum mencukupi juga menyebabkan bayi terus menangis meminta menyusu. Kebutuhan akan rasa aman juga mendorong bayi untuk terus mengisap payudara. Proses menyusu memberikan efek menenangkan dan kenyamanan saat berada dalam dekapan ibu, terutama ketika bayi merasa mengantuk.
Alasan Bayi Menyusu Lebih Sedikit di Hari Berikutnya
Bayi tidak harus mempertahankan frekuensi menyusu yang sama setiap hari. Perbedaan metabolisme, ukuran tubuh, tingkat aktivitas, hingga kondisi cuaca dapat memengaruhi rasa lapar dan haus pada bayi. Pola menyusu yang sangat sering dalam satu waktu juga dikenal sebagai istilah cluster feeding.
Durasi dan frekuensi menyusu tiap bayi sangat bervariasi, mulai dari 5 hingga 30 menit per sesi. Konsultan laktasi bersertifikat internasional (IBCLC) asal Inggris, Emma Pickett, menegaskan bahwa kecukupan ASI tidak bisa diukur hanya dari durasi atau frekuensi menyusu.
"Anda tidak bisa menilai kecukupan ASI hanya dari seberapa sering bayi menyusu. Anda juga tidak bisa menentukannya dari lamanya waktu menyusu. Bahkan, Anda tidak bisa hanya berpatokan pada apakah bayi menangis atau tampak rewel, karena hal tersebut bisa disebabkan oleh 20 alasan yang berbeda," ujar Emma Pickett.
Indikator Kecukupan Asupan ASI pada Bayi
Organisasi layanan kesehatan Inggris (NHS) mencatat sejumlah patokan teknis untuk menilai apakah bayi sudah mendapatkan asupan ASI yang cukup. Bayi yang menyusu dengan baik akan menunjukkan hisapan cepat di awal, lalu berlanjut menjadi hisapan panjang berirama yang disertai gerakan menelan. Pipi bayi tetap tampak bulat dan mulutnya terlihat lembap.
Bayi akan melepaskan payudara secara mandiri dan terlihat puas setelah kenyang. Payudara ibu juga terasa lebih lembut seusai menyusui tanpa mengalami perubahan bentuk puting menjadi pipih atau memutih.
Pertambahan berat badan secara bertahap setelah usia 3 hingga 4 hari menjadi tanda penting lainnya. Bayi juga tampak sehat serta aktif saat terbangun.
Pola buang air turut menjadi parameter utama kesehatan pencernaan bayi. Mulai hari keempat, bayi setidaknya buang air besar dua kali sehari dengan feses konsistensi lembut berwarna kuning. Frekuensi buang air kecil juga meningkat mulai hari kelima dengan minimal enam kali ganti popok basah dalam 24 jam. Pada 48 jam pertama pascamelahirkan, bayi umumnya hanya mengompol dua hingga tiga kali.