Pola Makan Tradisional Jepang Washoku Terbukti Mampu Menekan Risiko Depresi
Pola makan tradisional Jepang yang dikenal sebagai washoku ternyata menyimpan manfaat untuk kesehatan mental. Riset terbaru menunjukkan bahwa konsumsi menu ini berkaitan dengan penurunan risiko depresi.
Filosofi washoku mencakup keseimbangan bahan musiman, penyajian, dan hubungan dengan budaya. Konsep utamanya mengusung prinsip ichiju-sansai, yakni kombinasi satu sup, tiga lauk, serta nasi sebagai hidangan utama.
Pengolahan washoku mengandalkan bahan segar seperti ikan, sayuran musiman, dan hasil laut. Bumbu pelengkap seperti dashi, kecap asin, miso, dan mirin digunakan untuk memperkuat rasa alami bahan makanan.
Sebuah riset dalam jurnal Psychiatry and Clinical Neurosciences menguji dampak washoku terhadap kesehatan jiwa. Laporan tersebut dilansir dari Detik Food pada pertengahan 2025.
Peneliti melibatkan 12.500 pekerja di 5 perusahaan besar Jepang sepanjang 2018 hingga 2021. Mayoritas responden merupakan laki-laki dengan rata-rata usia 42,5 tahun.
Hasil survei awal mencatat 30,9% partisipan mengalami gejala depresi, termasuk rasa putus asa. Peneliti lantas mengevaluasi frekuensi konsumsi hidangan harian para responden dalam seminggu.
Pengukuran dilakukan menggunakan skala 0 hingga 9 untuk pola washoku standar. Makanan yang dinilai mencakup nasi putih, ikan, sup miso, olahan kedelai, sayuran matang, jamur, rumput laut, dan teh hijau.
Peneliti juga menerapkan skala modifikasi 0 hingga 11 yang memperhitungkan buah-buahan, sayuran mentah, produk susu, serta nasi minim proses. Poin tambahan diberikan kepada peserta yang membatasi asupan asin.
Data mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat kepatuhan pada pola diet ini, semakin rendah risiko depresi. Responden dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat konsumsi makanan.
Kelompok dengan asupan washoku tertinggi memiliki kemungkinan 17% hingga 20% lebih kecil mengalami gejala depresi dibanding kelompok berasupan terendah.
Faktor non-makanan seperti usia, jenis kelamin, status pernikahan, hingga gaya hidup turut diperhitungkan. Peneliti mengoreksi data secara statistik guna meminimalkan bias variabel luar tersebut.
Hubungan positif ini didorong oleh kandungan folat pada rumput laut, produk kedelai, dan sayuran. Nutrisi tersebut memicu pembentukan neurotransmitter penyeimbang suasana hati seperti serotonin dan dopamin.
Kandungan antioksidan dalam teh hijau, miso, natto, dan sayuran berwarna juga mengurangi stres oksidatif otak. Selain itu, rasa umami diperkirakan merangsang sistem saraf parasimpatik untuk menjaga stabilitas mental.
"Kami berharap bahwa mempromosikan kebiasaan makan sehat yang berakar pada budaya makanan Jepang akan mengarah pada strategi kesehatan masyarakat baru untuk mendukung kesejahteraan mental," kata Haruka Miyake, peneliti dari Institut Keamanan Kesehatan Jepang.