Pola Asuh Orang Tua Belanda Sukses Bentuk Anak Paling Bahagia
Kesejahteraan mental anak-anak di Belanda sering kali menjadi sorotan karena mereka disebut sebagai salah satu anak paling bahagia di dunia. Kondisi tersebut sangat berkaitan erat dengan keberhasilan pola asuh orang tua setempat yang mengedepankan keseimbangan serta kebebasan.
Budaya pengasuhan yang kuat ini memberikan dampak positif bagi kesehatan emosional anak. Melalui mental yang sehat, anak-anak dapat lebih menikmati kehidupan mereka, seperti dilansir dari HaiBunda.
Terdapat beberapa nilai mendasar yang dipegang oleh orang tua di Belanda sebelum mereka menerapkan pola asuh kepada anak-anak. Berdasarkan informasi yang dikutip dari Parents, nilai pertama adalah menjaga keseimbangan yang kuat antara pekerjaan dan urusan keluarga.
Masyarakat di sana sangat menghargai porsi waktu pribadi bersama keluarga agar setara dengan urusan pekerjaan. Sebuah studi pada tahun 2021 bahkan menunjukkan bahwa hampir separuh tenaga kerja di negara tersebut bekerja secara paruh waktu.
Para ayah di Belanda juga memiliki kebiasaan yang disebut "Papaday", yaitu meluangkan satu hari khusus setiap minggu demi menghabiskan waktu bersama anak. Waktu luang ini dipakai untuk terlibat aktif dalam aktivitas anak seperti bermain, berolahraga, atau bersantai.
Nilai kedua yang diterapkan adalah mengutamakan kebersamaan melalui momen makan bersama anak minimal satu kali dalam sehari. Kebiasaan sederhana ini efektif membantu menjaga kesehatan mental karena menjadi ruang berinteraksi dan berbagi cerita bagi setiap anggota keluarga.
Nilai ketiga berpusat pada pemeliharaan rutinitas serta struktur harian yang jelas melalui prinsip "rust, reinheid, regelmaat" yang berarti istirahat, kebersihan, dan keteraturan. Pola konsisten ini diterapkan sejak bayi lahir agar anak merasa aman sekaligus lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan.
Selanjutnya, nilai keempat adalah menghargai opini anak di dalam keluarga sejak usia dini. Orang tua terbiasa melibatkan anak untuk mengambil keputusan-keputusan sederhana yang sesuai dengan kapasitas komunikasi mereka.
Melalui keterlibatan tersebut, anak belajar menyampaikan pandangan, bernegosiasi, dan memahami batasan diri. Orang tua juga bersikap komunikatif serta terbuka terhadap berbagai topik sensitif yang dirasakan oleh sang anak.
Metode Praktis Parenting yang Menunjang Kebahagiaan Anak
Pola pengasuhan yang hangat dan lembut di Belanda juga diwujudkan melalui beberapa metode praktis sehari-hari. Salah satunya terlihat pada budaya bersepeda yang sudah diperkenalkan sejak dini kepada anak-anak.
Kebiasaan bersepeda di berbagai musim ini terbukti melatih kemandirian dan rasa percaya diri anak. Orang tua secara konsisten memberikan dorongan positif agar anak mampu menghadapi lingkungan luar tanpa rasa takut yang berlebihan.
Meskipun menerapkan batasan serta struktur seperti jadwal tidur yang tepat waktu, orang tua di Belanda dikenal tidak bersikap mengekang. Mereka sangat jarang menggunakan kekerasan fisik, memarahi, atau memberikan hukuman yang keras.
Anak-anak diberikan kebebasan yang luas untuk bermain dan beraktivitas di lingkungan terbuka tanpa pengawasan yang berlebihan. Kebebasan ini diimbangi dengan cara bicara orang tua yang jujur dan terbuka mengenai alasan di balik setiap aturan.
Di bidang pendidikan, orang tua tidak menaruh fokus utama pada capaian nilai akademis semata. Mereka memandang pendidikan sebagai proses bagi anak untuk mengenali diri sendiri, berkembang, serta berani mengekspresikan perasaan.
Keterlibatan pengasuhan juga dilakukan secara setara oleh kedua orang tua, di mana para ayah aktif membagi waktu di rumah untuk mengasuh anak. Ketika libur sekolah tiba, orang tua biasanya akan bergantian menjaga anak di rumah demi memenuhi kebutuhan emosional mereka.
Terakhir, anak-anak diajarkan untuk menerapkan kesederhanaan hidup melalui prinsip bahwa menjadi sederhana sudah sangat cukup. Mereka tidak dituntut untuk selalu menonjol, melainkan didorong melakukan aktivitas luar ruangan atau berkemah yang disukai.