Piala Dunia 2026 Dongkrak Output Ekonomi Global Hingga Rp1.437 Triliun
Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko hingga awal Juli 2026 dilaporkan memberikan dampak ekonomi signifikan dengan menghasilkan output ekonomi global diperkirakan mencapai lebih dari USD 80 miliar atau setara Rp1.437 triliun. Ajang sepak bola terbesar ini juga berhasil menarik jutaan suporter langsung ke stadion dan mendorong perputaran ekonomi yang masif di negara-negara tuan rumah. Dilansir dari Detik Travel, data per 1 Juli 2026 menunjukkan lebih dari lima juta penonton telah memadati stadion, melampaui rekor kehadiran Piala Dunia 1994 silam.
Peningkatan jumlah penonton ini dipicu oleh bertambahnya jumlah kepesertaan menjadi 48 negara. Sektor ketenagakerjaan turut merasakan dampak positif dengan terciptanya lebih dari 824 ribu lapangan kerja penuh waktu dari seluruh aktivitas pendukung turnamen.
Selain penonton di dalam stadion, World Cup Fan Festival di berbagai kota tujuan juga telah dikunjungi sekitar 5,5 juta orang. Lonjakan ini berkontribusi langsung hingga USD 40,9 miliar atau Rp733 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) global.
Sektor pariwisata mencatat belanja langsung wisatawan di kota-kota tuan rumah diproyeksikan mencapai USD 13,9 miliar atau Rp249 triliun. Setiap suporter rata-rata menghabiskan sekitar USD 416 atau Rp7 juta per hari untuk akomodasi, transportasi, makan, dan cendera mata. Tingginya pengeluaran ini berkaitan dengan durasi tinggal wisatawan mancanegara yang rata-rata mencapai 12 hari di negara tuan rumah. Penyelenggara memperkirakan lebih dari tujuh juta tiket akan terjual hingga pertandingan final yang dijadwalkan pada 19 Juli 2026.
Pergerakan wisatawan tersebar di 16 kota tuan rumah termasuk Mexico City, Miami, Vancouver, New York, Los Angeles, Houston, Dallas, San Francisco, dan Boston. Dampak liburan ini bahkan meluas hingga ke beberapa destinasi di Eropa dan Amerika Latin. Lonjakan kunjungan ini berimbas pada kenaikan tarif akomodasi hingga 90% di sejumlah kota besar seiring rekor baru tingkat hunian hotel. Kondisi tersebut mendorong otoritas perbatasan Amerika Utara dan World Travel & Tourism Council (WTTC) menyusun standar baru pengelolaan kedatangan lintas negara.
Pemerintah negara tuan rumah mengantisipasi arus ini dengan meningkatkan kapasitas infrastruktur utama. Langkah yang diambil meliputi perluasan kapasitas bandara, pembenahan jaringan transportasi, serta modernisasi stadion hingga turnamen selesai.