Petani Sawit Perlu Siapkan Modal dan Manajemen Bangun PKS Mandiri
Rencana pembangunan dan pengelolaan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) secara mandiri oleh koperasi petani membutuhkan persiapan manajemen profesional serta dukungan dana investasi yang matang demi menjamin keberlanjutan usaha.
Pengamat Sawit Sumatera Selatan, H. Rudi Arpian, menyampaikan bahwa penguatan kelembagaan petani melalui kepemilikan PKS menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi tawar serta meningkatkan kesejahteraan dalam rantai industri sawit nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Rudi menekankan pentingnya perekrutan tenaga berpengalaman serta menghindari pembagian jabatan tanpa kompetensi teknis, keuangan, dan pemasaran yang memadai dalam struktur pengelolaan PKS milik koperasi.
"Proses pembelajaran dan transfer pengetahuan dari perusahaan perkebunan negara maupun swasta juga dinilai penting untuk meningkatkan kapasitas pengelola," ujarnya kepada elaeis.co, Selasa (18/8).
Selain aspek manajemen, kebutuhan investasi untuk mendirikan satu unit PKS diperkirakan mencapai Rp300 miliar hingga Rp500 miliar, yang memerlukan skema pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), LPDB, atau kemitraan BUMN.
Perencanaan biaya operasional, perawatan, pengelolaan limbah, dan pemenuhan standar emisi juga harus disiapkan secara cermat agar fasilitas pabrik tidak berakhir mangkrak di tengah jalan.
"Pembenahan sektor hulu harus dilakukan secara bersamaan. Keberadaan PKS tidak akan optimal apabila produktivitas kebun petani masih rendah akibat tanaman yang sudah tua atau tidak terawat. Karena itu, program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) perlu terus dipercepat agar produktivitas kebun meningkat," sambungnya.
Peningkatan produktivitas kebun hingga mencapai 20 ton per hektar per tahun dinilai mampu menjamin ketersediaan pasokan bahan baku secara berkelanjutan bagi operasional PKS.
"Keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang aspek lingkungan, tetapi juga keberlanjutan ekonomi petani. Ketika petani menjadi pemilik pabrik, mereka akan memiliki kepentingan langsung untuk menjaga kebun, menjaga lingkungan, dan memastikan usaha tersebut dapat diwariskan kepada generasi berikutnya," tuturnya.
Inisiatif hilirisasi di tingkat akar rumput ini diharapkan dapat mentransformasi peran petani dari sekadar pemasok bahan baku menjadi pelaku utama industri yang mandiri dan berdaya saing.
"Dengan demikian, pembangunan PKS milik petani dinilai sejalan dengan prinsip sawit berkelanjutan dan visi Indonesia Emas 2045. Petani tidak lagi sekedar menjadi pemasok bahan baku atau petani plasma, melainkan naik kelas menjadi pelaku utama industri yang memiliki kendali lebih besar terhadap masa depan usahanya sendiri," sambungnya lagi.