10 Perubahan Tubuh Setelah Melahirkan yang Jarang Dibahas

Share

Menjalani peran sebagai ibu baru membawa berbagai tantangan, mulai dari mengurus Si Kecil, fluktuasi hormon, hingga pemulihan fisik. Periode pascapersalinan memberikan berbagai efek pada tubuh perempuan. Berikut adalah 10 perubahan tubuh setelah melahirkan yang sering dialami ibu tetapi jarang dibahas:

  1. Preeklamsia pasca persalinan — Kondisi tekanan darah tinggi yang berpotensi fatal ini dapat berkembang antara 48 jam hingga enam minggu setelah melahirkan. Gejalanya meliputi sakit kepala parah, perubahan penglihatan, nyeri tulang rusuk kanan, serta pembengkakan mendadak pada wajah dan tangan.
  2. Robekan saat persalinan normal — Robekan jaringan antara vagina dan anus yang terjadi secara alami ini memerlukan perawatan agar sembuh dengan baik. Rasa sakit pada beberapa minggu pertama adalah hal normal yang dapat diredakan dengan kompres es, rendaman air hangat, atau obat pereda nyeri.
  3. Kekeringan vagina — Penurunan kadar estrogen, terutama pada ibu menyusui, membuat lapisan vagina menjadi lebih tipis dan kering. Kondisi ini sering menyebabkan rasa gatal, terbakar, atau nyeri saat berhubungan intim.
  4. Perdarahan berkepanjangan — Perdarahan vagina yang berlanjut lebih dari enam minggu dapat menjadi tanda adanya sisa jaringan plasenta yang tertinggal di rahim. Kondisi ini memerlukan penanganan dokter sesegera mungkin untuk mencegah komplikasi seperti infeksi.
  5. Kebocoran urine — Pembengkakan dan perubahan pada otot dasar panggul serta jaringan perineum membuat dukungan kandung kemih melemah. Hal ini menyebabkan kebocoran urine ringan saat batuk atau bersin, yang dapat diatasi dengan latihan Kegel.
  6. Nyeri saat berhubungan intim — Rasa sakit saat berhubungan intim dialami oleh sekitar 40 persen ibu baru pada tiga bulan pertama dan 20 persen pada enam bulan pascapersalinan.
  7. Perubahan dermatologis — Perubahan hormon setelah melahirkan sering menyebabkan kerontokan rambut dan perubahan kondisi kulit. Masalah dermatologis ini umumnya membaik secara bertahap dalam waktu 6 hingga 12 bulan.
  8. Kaki yang membesar — Penumpukan cairan dan darah ekstra selama kehamilan dapat berkumpul di ekstremitas bawah sehingga menyebabkan pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki. Berjalan membantu meratakan sirkulasi cairan, namun pembengkakan yang tidak kunjung membaik perlu diwaspadai sebagai tanda gangguan kardiovaskular.
  9. Pemisahan otot perut — Dikenal sebagai diastasis recti, kondisi ini terjadi saat rahim membesar dan merenggangkan dinding perut. Penggunaan korset perut dapat membantu menopang otot perut yang terpisah, meredakan nyeri punggung, dan mengurangi pembengkakan.
  10. Bekas luka caesar yang menyakitkan — Iritasi pada saraf sensitif di dinding perut dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada bekas sayatan caesar. Jika ketidaknyamanan berlanjut atau disertai keluarnya cairan, hal tersebut bisa mengindikasikan adanya infeksi.

Beradaptasi dengan berbagai perubahan fisik usai persalinan merupakan bagian dari proses menjadi ibu. Selamat menikmati momen berharga bersama Si Kecil.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author