Pertamina Patra Niaga Dorong Ketahanan Pangan Lewat Bioflok dan Pertanian Terpadu
Masyarakat pesisir di Kelurahan Mundam, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, Riau, kini beralih mengembangkan budidaya ikan nila menggunakan sistem bioflok. Langkah ini diambil sebagai jalan keluar untuk menciptakan sumber penghasilan alternatif bagi warga setempat.
Dilansir dari Detik Finance, program inovatif ini muncul di tengah berbagai kesulitan yang kerap melanda para nelayan. Beberapa tantangan utama yang mereka hadapi meliputi kondisi cuaca yang tidak menentu hingga minimnya sarana perikanan yang memadai.
Penerapan metode bioflok memungkinkan masyarakat sekitar untuk melakukan panen ikan nila dalam kurun waktu berkisar antara 4 hingga 6 bulan. Hasil dari budidaya ini tidak hanya dimanfaatkan sebagai pemenuh kebutuhan pangan mandiri, tetapi juga dipasarkan demi meningkatkan pendapatan keluarga.
Aktivitas budidaya tersebut mengoptimalkan dukungan dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang memiliki kapasitas 4,4 kWp. Penggunaan energi terbarukan ini dilaporkan mampu menekan pengeluaran biaya listrik masyarakat hingga mencapai Rp 9,3 juta per tahun.
Selain menghemat pengeluaran, infrastruktur hijau tersebut turut berkontribusi positif terhadap lingkungan sekitar. Fasilitas PLTS ini diklaim mampu mereduksi emisi karbon hingga sebesar 5,52 ton CO₂ pada setiap tahunnya.
Upaya dalam memperkokoh ketahanan pangan berbasis masyarakat tidak hanya terpusat di wilayah Riau. Gerakan serupa juga digalakkan di Provinsi Sumatera Utara melalui sebuah inisiatif bernama program Siantar Habonaron.
Program di Sumatera Utara tersebut diintegrasikan langsung dengan wilayah kerja Fuel Terminal Pematang Siantar. Dalam pelaksanaannya, masyarakat memanfaatkan area pekarangan rumah masing-masing sebagai lahan kegiatan pertanian terpadu.
Ekosistem pertanian yang dibangun mengombinasikan beberapa sektor sekaligus yang saling berkesinambungan. Warga mengelola peternakan ayam petelur, budidaya tanaman sayuran, hingga pemanfaatan limbah organik serta budidaya maggot.
Seluruh elemen dalam ekosistem tersebut dirancang untuk saling menopang satu sama lain. Telur beserta sayuran segar yang diproduksi dari lahan pekarangan langsung dialokasikan untuk memenuhi konsumsi pangan harian rumah tangga warga.
Sementara itu, kotoran dari peternakan ayam dialihfungsikan menjadi media tanam sayuran. Sisa makanan dari aktivitas dapur rumah tangga juga diolah sebagai pakan maggot, yang nantinya dipanen kembali untuk dijadikan pakan ternak berkualitas.
Manfaat nyata dari kehadiran program pertanian terpadu ini diakui langsung oleh salah satu anggota Kelompok Habonaron bernama Asih.
"Sejak adanya bantuan dari Pertamina Patra Niaga, kebutuhan sarapan anak saya menjadi terpenuhi dari hasil ternak ini," ujarnya.
Mengenai program tersebut, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, memberikan penjelasan terkait visi pemberdayaan yang dijalankan oleh perusahaan.
"Pertamina Patra Niaga meyakini bahwa ketahanan pangan dapat dibangun melalui pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Karena itu, kami terus menghadirkan program-program yang mengoptimalkan potensi lokal, mendorong kemandirian ekonomi, serta menciptakan manfaat sosial dan lingkungan," kata Roberth.
Menurut penuturannya, seluruh program yang diinisiasi oleh perusahaan sengaja diorientasikan untuk memicu kemandirian ekonomi warga setempat. Langkah tersebut sekaligus berjalan beriringan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan di sekitar wilayah operasional perusahaan.