Florentino Perez Rombak Manajemen Real Madrid Demi Kylian Mbappe

Share

Presiden Real Madrid Florentino Perez mengambil langkah strategis dengan merombak sektor kepelatihan dan komposisi pemain menjelang pemilihan presiden klub pada Minggu, 7 Juni 2026, guna mengoptimalkan kontribusi penyerang Kylian Mbappe.

Kebijakan besar ini diterapkan setelah Los Blancos melewati dua musim terakhir tanpa raihan trofi domestik utama sejak kedatangan Mbappe pada musim panas 2024. Meski tim gagal menambah gelar mayor dan kalah dua kali dari Barcelona di Piala Super Spanyol, penyerang berusia 27 tahun itu tetap produktif dengan mencetak 86 gol dan 12 assist dari 103 pertandingan di seluruh ajang.

Kritik publik sempat mencuat karena kegagalan tim meraih gelar juara, ditambah adanya kabar internal mengenai frustrasi sejumlah pemain terhadap sikap Mbappe. Namun, Florentino Perez memberikan dukungan penuh kepada sang penyerang dan menegaskan bahwa jajaran pemain bintang di lini depan tidak akan dilepas ke klub lain pada bursa transfer.

"Dia akan memberikan banyak hal untuk kami dan saya yakin dia akan sukses di Real Madrid," ujar Florentino Perez, Presiden Real Madrid saat diwawancarai media Spanyol AS.

Perez menilai produktivitas tinggi yang ditunjukkan oleh Mbappe menjadi bukti nyata dari kualitas sang pemain yang tidak perlu diragukan lagi oleh publik.

"Mbappe adalah salah satu pemain terbaik di dunia. Anda hanya perlu melihat statistiknya untuk memahami kualitas yang dimiliki pemain kami. Tidak ada yang seharusnya meragukan kemampuan pemain luar biasa seperti dirinya," tegas Florentino Perez, Presiden Real Madrid.

Untuk mengoptimalkan taktik tim, manajemen resmi menunjuk Jose Mourinho sebagai pelatih baru menggantikan proyek taktis Alvaro Arbeloa dan Xabi Alonso. Perez memilih Mourinho karena rekam jejak kuat sang pelatih yang pernah membawa tim meraih Liga Rekor saat berada di Santiago Bernabeu pada masa lalu.

"Tenu saja Mbappe, Vinicius, dan Bellingham akan terus bermain untuk Real Madrid," kata Florentino Perez, Presiden Real Madrid.

Selain mendatangkan pelatih baru, El Real juga memperkuat lini pertahanan dengan mendatangkan bek Liverpool Ibrahima Konate serta membidik bek sayap Inter Milan Denzel Dumfries.

"Dia sangat penting bagi Real Madrid pada masanya. Mourinho adalah pelatih yang membawa tim meraih Liga Rekor dan meningkatkan daya sang tim ke level yang sangat tinggi. Itu menjadi fondasi bagi berbagai kesuksesan yang datang setelahnya," kata Florentino Perez, Presiden Real Madrid.

Di sisi lain, Kylian Mbappe tetap percaya diri dengan status klubnya dan menilai pengakuan bahwa Real Madrid adalah klub terbesar di dunia sudah menjadi konsensus umum di mata suporter.

"Bagi banyak orang, kecuali fans Barcelona, Madrid adalah klub terbesar di dunia. Itu membuat Anda kecewa berat pasti. Ini adalah klub yang melambangkan kehebatan dan karakter. Barcelona mencatatkan sejarah sepakbola dengan cara lain, tapi Real Madrid adalah klub paling populer di dunia," ujar Mbappe seperti dikutip Tribuna.

Mbappe menambahkan bahwa keputusannya mengenakan jersey legendaris Los Blancos didasari oleh dorongan ambisius untuk mengukir warisan sejarah yang tak lekang oleh waktu, melampaui sekadar akumulasi medali.

"Iya persis seperti yang saya bayangkan," ujar Mbappe, menggambarkan pengalamannya di klub ibu kota Spanyol tersebut.

Bagi Mbappe, kompetisi sepak bola yang dinamis menuntut pertumbuhan berkelanjutan agar posisi seorang pemain tidak diambil alih oleh orang lain.

"Bagi banyak orang, selain para penggemar Barcelona, ini adalah klub terbesar di dunia. Klub ini membuat hati Anda bergetar." Pernyataan ini menegaskan bahwa pesona Real Madrid tidak hanya terletak pada sejarah gemilangnya, tetapi juga pada bagaimana klub tersebut mampu membangkitkan gairah dan kekaguman yang luar biasa.

Penyerang asal Prancis tersebut juga menjelaskan bahwa motivasi utamanya melampaui jawaban mudah mengenai keinginan memenangkan setiap gelar yang ada.

"Saya ingin mencatatkan sejarah di Real Madrid, karena jika Anda membuat sejarah di klub terbesar dunia, Anda akan tercatat dalam sejarah sepakbola."

Mbappe menegaskan bahwa ada dimensi yang lebih dalam yang ingin ia kejar di lingkungan sepak bola profesional yang sangat kompetitif ini.

"Saya pikir semua orang memahami itu. Ini adalah klub yang mewakili dan melambangkan kebesaran," lanjutnya.

Pemain bernomor punggung utama itu kembali menekankan tekadnya untuk memberikan dampak jangka panjang bagi sejarah klub.

"Saya bahagia dan bangga bisa bermain untuk klub ini. Saya ingin meninggalkan jejak dalam sejarah Real Madrid, karena jika Anda berhasil melakukannya di klub terbesar dunia, maka Anda telah mendapatkan tempat dalam sejarah sepak bola." Kalimat ini menunjukkan betapa Mbappe menempatkan nilai pada dampak jangka panjang yang bisa ia ciptakan, melampaui sekadar akumulasi medali.

Ekspektasi tinggi di Real Madrid dipandang Mbappe sebagai sebuah kesempatan emas untuk menguji batas kemampuannya.

"Itu adalah pertanyaan yang selalu saya tanyakan kepada diri sendiri," ungkap Mbappe ketika ditanya mengenai motivasinya.

Ia menggarisbawahi pentingnya evolusi diri yang berkelanjutan agar posisinya di dalam tim tetap aman.

"Jawaban paling mudah tentu mengatakan ingin memenangkan setiap gelar yang ada." Namun, ia dengan cepat menggarisbawahi bahwa ada dimensi yang lebih dalam dari sekadar kuantitas gelar.

Filosofi ini mencerminkan pemahamannya yang mendalam tentang sifat kompetitif sepak bola profesional.

"Tetapi ada orang-orang yang telah mencapai lebih dari sekadar memenangkan semua trofi," tegasnya.

Ia menyadari ada tekanan konstan untuk terus memberikan yang terbaik di panggung terbesar sepak bola.

"Dalam sepak bola selalu ada sesuatu yang harus dilakukan, karena jika Anda tidak melakukannya, orang lain akan mengambil tempat Anda." Filosofi ini mencerminkan pemahamannya yang mendalam tentang sifat kompetitif sepak bola profesional dan pentingnya evolusi diri yang berkelanjutan.

Mantan pemain tim nasional Prancis, Marcel Desailly, turut memberikan pembelaan terhadap kritik media mengenai liburan sang pemain ke Italia dan menganggap hal itu bukan masalah bagi pelatih baru.

"Mbáppé sebenarnya tidak pernah menjadi masalah bagi seorang pelatih," kata Marcel Desailly, Mantan Pemain Timnas Prancis saat berbicara kepada FootballTransfers atas nama MrRaffle.com.

Desailly menilai bahwa kelemahan utama Real Madrid terletak pada kegagalan sistem kolektif tim, sehingga Mourinho harus mampu menyesuaikan sistem taktis di sekitar sang bintang.

"Mourinho akan mengatakan hal yang sama: ‘Saya senang dengan 40 atau 42 gol per tahun dari Mbáppé, saya hanya perlu menyesuaikan diri di sekitarnya.’ Dia adalah penyerang," tambah Marcel Desailly, Mantan Pemain Timnas Prancis.

Desailly juga meminta para pendukung untuk tetap menghormati privasi dan kehidupan pribadi para pemain di luar jam kerja klub.

"Setiap orang boleh berkomentar tentang apa yang terjadi dalam kehidupan pribadinya atau kebutuhannya untuk bepergian. Tentunya ada pendukung Madrid yang berpendapat bahwa seorang pemain tidak boleh memiliki kehidupan pribadi dan harus sepenuhnya mdedikasikan diri untuk klub. Persepsi seperti itu selalu ada. Saya juga merasakannya saat masih bermain sepak bola – di mana, dalam arti tertentu, Anda menjadi milik para penggemar. Itu benar dan kami senang akan hal itu, tetapi janganlah berlebihan. Saya melakukan apa yang saya inginkan di waktu luang saya. Jangan datang dan menanyakan hal itu kepada saya. Jadi, saya tidak melihatnya sebagai masalah bagi Mourinho. Ini hanyalah sebuah penyesuaian," jelas Marcel Desailly, Mantan Pemain Timnas Prancis.

Menurut Desailly, tim sebesar Real Madrid pasti mampu mengakomodasi pemain produktif yang tidak ikut membantu lini pertahanan.

"But this is not entirely because Mbáppé. He does not track back? So what? What is your problem? You can accommodate one player—even one and a half or two—in a team who does not track back. Yes, you can accommodate it. You are Real Madrid. You can adjust it, especially for a guy who scores 40 goals a season," tegas Marcel Desailly, Mantan Pemain Timnas Prancis.

Pembelaan serupa datang dari mantan gelandang Real Madrid, Rafael van der Vaart, yang menyatakan bahwa label arogan kepada Mbappe tidak tepat dan kritik pasca-kegagalan PSG di Liga Champions sangat tidak adil.

"Ketika orang-orang membicarakan Mbappe sebagai sosok yang arogan, hal itu membuat saya sedikit kesal, dan orang-orang juga membicarakannya sekarang karena PSG telah memenangkan dua gelar Liga Champions. Semua orang bilang, ya, kamu bisa lihat dia adalah masalahnya, dan jangan salah paham… PSG punya banyak pemain bagus, tapi tidak ada satu pun bintang dunia sejati. Dia adalah bintang dunia di klub itu. Yang terjadi saat kamu bermain dengan pemain seperti dia di timmu adalah pemain bagus lainnya jadi sedikit tersembunyi. Dia berada di bawah tekanan, dan dia yang disalahkan saat PSG tidak menang," kata Rafael van der Vaart kepada Aceodds.

Van der Vaart, yang pernah bermain bersama Cristiano Ronaldo di Madrid, membandingkan tekanan taktis yang dihadapi Mbappe saat ini dengan situasi yang pernah dihadapi bintang asal Portugal tersebut.

"Kamu tahu, di klub besar seperti Real Madrid, semua orang dikritik habis-habisan," jelas Van der Vaart.

Ia menambahkan bahwa mengelola satu bintang besar memang sulit, namun dampaknya sangat besar bagi produktivitas tim secara keseluruhan.

"Ketika Ronaldo bermain di sana dan tidak menang, dia juga selalu disalahkan. Tapi yang saya perhatikan saat bermain di sana, tidak baik hanya memiliki satu bintang besar. Dengar, saya adalah pemain nomor sepuluh, dan ketika saya menguasai bola, mungkin saya punya opsi yang lebih baik, tapi jika Ronaldo berada di sisi kiri, saya dan semua orang mengoper bola kepadanya, yang sebenarnya tidak baik. Memiliki bintang besar di tim memang sulit, tapi kamu harus mengelolanya, karena pada akhirnya Ronaldo mencetak 60 gol per musim, dan Mbappe juga melakukan hal yang sama," tambah Rafael van der Vaart.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author