Ekonom Perdebatkan Potensi Krisis Ekonomi Indonesia akibat Tekanan Rupiah
Sejumlah ekonom menyampaikan pandangan yang bertolak belakang mengenai kondisi perekonomian Indonesia di tengah pelemahan nilai tukar rupiah serta anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan pada Jumat (5/6/2026).
Ekonom Universitas Gadjah Mada, Yudistira Hendra Permana menilai situasi nasional saat ini berada dalam fase rawan akibat akumulasi kebijakan fiskal dan moneter yang kurang disiplin selama tiga tahun terakhir.
"Ini memang situasi yang sangat berpotensi untuk memasukkan Indonesia itu ke dalam krisis atau membuat Indonesia itu potensi besar untuk menuju ke krisis ekonomi," kata Yudistira kepada Suara.com, Jumat (5/6/2026).
Menurut Yudistira, indikator tersebut kini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat melalui penurunan daya beli di sektor transportasi dan konsumsi rumah tangga, serta sulitnya mencari pekerjaan dengan upah yang memadai.
"Ya kita sudah merasakan bagaimana pelemahan daya beli, terus kemudian nilai tukar rupiah yang semakin merosot dan sebagainya, ya itu kita sangat sudah melihat dengan jelas IHSG juga merosot," ujarnya.
Yudistira juga menyoroti melemahnya independensi Bank Indonesia akibat intervensi eksekutif, serta penyempitan ruang fiskal karena transfer dana ke daerah yang mulai tersendat.
"Nah, ini sebetulnya adalah akibat dari, akumulasi ya. Ini adalah bentuk akumulasi atas ketidakdisiplinan fiskal maupun moneter," tegasnya.
Penurunan daya beli dinilai semakin nyata karena upah minimum saat ini tidak sebanding dengan peningkatan biaya hidup sehari-hari.
"Ya kita harus pahami nih bahwasanya bank sentral di Indonesia itu tugasnya kan adalah menjaga stabilitas nilai rupiah. Nah ini kan sudah tidak stabil kayak gini. Berarti artinya ya ada yang salah juga dengan dengan lembaga moneter satu itu," tuturnya.
Pemerintah juga dianggap mulai kesulitan mencari pendanaan APBN dan APBD sehingga muncul wacana kenaikan pajak UMKM di tengah perlambatan ekonomi.
"Krisis ekonominya sudah terlihat. Pekerjaan juga susah, nyari pekerjaan. Ada pun pekerjaan, upahnya juga enggak seberapa, ya maksudnya enggak seberapa itu saya bandingkan dengan biaya hidup," tandasnya.
Sebaliknya, Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede menegaskan bahwa stabilitas domestik masih sangat kuat karena ditopang oleh pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen dan inflasi Mei sebesar 3,08 persen.
“Yang perlu dipahami, kondisi saat ini merupakan fase penyesuaian terhadap dinamika global, bukan sinyal krisis,” ujar Josua dalam acara Komunita Economic Talk di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Josua menjelaskan cadangan devisa per April mencapai 146,2 miliar dolar AS dan rasio kecukupan modal perbankan berada di level 25,83 persen, jauh di atas standar internasional.
"Kalau dibandingkan dengan 1998, situasinya sangat jauh berbeda. Saat ini instrumen kebijakan dan fondasi ekonomi kita jauh lebih kuat untuk menghadapi gejolak global," jelas Joshua dalam keterangan tertulis kepada detikfinance, Sabtu (6/6/2026).
Ia menambahkan bahwa fenomena di masyarakat saat ini merupakan perubahan pola konsumsi yang lebih selektif akibat tekanan harga komoditas, bukan penurunan daya beli secara menyeluruh.
"Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat, kapasitas kebijakan yang memadai, dan peluang yang besar untuk terus tumbuh. Karena itu, optimisme yang didasarkan pada data dan pemahaman yang baik menjadi sangat penting dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan," pungkasnya.