Kenali Perbedaan Maag GERD dan Gastritis Agar Tidak Salah Penanganan
Sakit perut pada bagian atas sering kali langsung diidentifikasi masyarakat sebagai sakit maag. Padahal, gangguan kesehatan tersebut bisa berkaitan dengan berbagai masalah pencernaan yang memiliki penyebab berbeda-beda. Dilansir dari Detik Health, dunia medis mengenal beberapa jenis gangguan pencernaan yang memiliki kemiripan gejala dengan maag.
Kondisi yang sering membuat masyarakat keliru tersebut meliputi dispepsia, GERD, hingga gastritis. Istilah maag sebenarnya merupakan sebutan awam untuk rasa tidak nyaman pada perut. Menurut informasi dari Cleveland Clinic, kondisi ini dalam istilah medis disebut sebagai dispepsia.
Dispepsia terjadi ketika sistem pencernaan manusia sedang memproses makanan. Mengenai hal ini, dokter spesialis memberikan penjelasan klinis terkait gejala yang muncul pada pasien.
"Dispepsia merupakan sekumpulan gejala gangguan pencernaan yang terjadi di saluran pencernaan atas, dengan keluhan berupa nyeri hingga rasa terbakar di area ulu hati (epigastrium), perut terasa penuh, cepat kenyang, mual, bahkan muntah," kata dr Gunady Wibowo R., SpPD-KGEH selaku spesialis penyakit dalam konsultan hati dan saluran cerna Mayapada Hospital Surabaya. Gejala maag biasanya muncul dalam hitungan menit sampai beberapa jam setelah seseorang mengonsumsi makanan. Lambung sendiri memerlukan waktu sekitar tiga hingga lima jam untuk mencerna makanan sebelum diteruskan.
Pada saat proses pencernaan berlangsung, kantung empedu dan pankreas akan melepaskan enzim serta empedu. Pelepasan ini terjadi tepat di area yang sering mengalami nyeri akibat gangguan pencernaan. Ada beberapa faktor utama yang memicu munculnya gangguan maag ini pada tubuh seseorang. Kebiasaan hidup dan pola makan menjadi pemicu yang paling sering ditemukan oleh tim medis.
"Maag ini umumnya disebabkan oleh iritasi pada lambung akibat pola makan yang tidak teratur, stres berlebihan, atau konsumsi makanan dan minuman tertentu yang terlalu pedas, asam, atau berlemak," tutur Spesialis Penyakit Dalam dr Imelda Maria Loho, SpPD.
Mengenal Gejala dan Faktor Risiko GERD
Penyakit GERD atau gastroesophageal reflux disease terjadi saat asam lambung mengalami kenaikan hingga mencapai kerongkongan. Kondisi ini memicu rasa terbakar pada dada atau dikenal dengan istilah heartburn.
Gejala lain dari GERD meliputi rasa pahit atau asam pada mulut, nyeri dada, hingga kesulitan menelan. Pasien juga kerap merasakan sensasi mengganjal di tenggorokan serta perut kembung. "Kondisi ini disebabkan oleh melemahnya otot di bagian bawah kerongkongan (lower esophageal sphincter/LES), sehingga asam lambung naik dan menyebabkan iritasi," ujar dr Gunady.
Terdapat berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami GERD. Obesitas menjadi salah satu penyebab karena meningkatkan tekanan serta volume pada bagian perut.
Kondisi kehamilan juga memicu hal serupa karena tekanan perut dapat meregangkan otot diafragma yang menopang LES. Selain itu, faktor usia di atas 50 tahun meningkatkan probabilitas terkena GERD.
Konsumsi obat tertentu seperti benzodiazepin atau obat penenang, serta NSAID seperti ibuprofen dan aspirin juga berpengaruh. Obat-obatan tersebut diketahui memiliki efek relaksasi terhadap fungsi otot LES. Penyakit gastroparesis, yaitu kondisi otot lambung tidak bergerak normal, serta hernia hiatus turut menjadi pemicu. Kebiasaan langsung berbaring setelah makan serta riwayat operasi dada juga meningkatkan risiko.
Secara umum, GERD memicu sensasi panas di dada yang memburuk saat berbaring setelah makan. Sementara maag lebih terfokus pada nyeri atau kembung di area perut setelah makan.
Karakteristik dan Pemicu Gastritis
Gastritis didefinisikan sebagai peradangan yang terjadi pada lapisan pelindung atau lendir di dinding lambung. Saat lapisan pelindung rusak, cairan pencernaan akan melukai jaringan lambung dan memicu inflamasi. Menurut penjelasan dr Gunady, gastritis memiliki tanda khas berupa perih yang terasa panas pada ulu hati.
Gejala lainnya adalah mual, muntah, perut kembung, menurunnya nafsu makan, hingga cegukan. Infeksi bakteri Helicobacter pylori merupakan salah satu faktor risiko utama gastritis yang paling umum di dunia. Namun, tidak semua orang yang terinfeksi bakteri ini akan otomatis mengalami gastritis.
Faktor risiko lainnya adalah kebiasaan mengonsumsi obat pereda nyeri jenis NSAID secara teratur. Penggunaan obat tersebut dapat memicu terjadinya gastritis akut maupun kronis pada lambung.
Usia lanjut juga meningkatkan kerentanan karena lapisan pelindung lambung mengalami penipisan seiring bertambahnya usia. Selain itu, konsumsi alkohol secara berlebihan dapat mengiritasi dan merusak dinding lambung.
Metode Diagnosis Penyakit Lambung
Apabila keluhan pada lambung tidak kunjung mereda, pemeriksaan ke dokter sangat disarankan untuk penanganan tepat. Dokter dapat merekomendasikan tindakan endoskopi jika gejala terus memburuk atau sering kambuh.
Prosedur endoskopi dilakukan memakai selang fleksibel dengan kamera di ujungnya guna memeriksa saluran pencernaan. Alat ini memperlihatkan kondisi esofagus dan lambung secara langsung lewat layar monitor.
"Dari hasil pemeriksaan, dokter dapat menentukan pengobatan yang paling tepat. Pada kasus gastritis yang sering kambuh, endoskopi juga bisa membantu mencari penyebab lain, misalnya penyakit radang usus," kata Spesialis Penyakit Dalam dr Muhamad Yugo Hario Sakti Dua, SpPD-KGEH.