Perang Iran Picu Lonjakan Harga Kemasan Plastik di Asia
Konsumen di kawasan Asia harus bersiap menghadapi lonjakan biaya belanjaan selama beberapa bulan ke depan. Kondisi ini dipicu oleh mahalnya harga kemasan akibat konflik bersenjata di Iran yang menyebabkan kelangkaan plastik pengangkut makanan. Seperti dikutip dari Bloombergtechnoz, gangguan pada rantai pasok plastik berimbas langsung pada lonjakan tajam biaya pengemasan.
Akibatnya, sejumlah korporasi kini mulai membebankan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen. Indikator harga pangan global saat ini telah mendekati level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan lanjutan berisiko memperberat beban finansial rumah tangga yang saat ini juga sedang tertekan oleh tingginya harga bahan bakar.
Penyebab utama dari kemerosotan situasi ini adalah penutupan hampir menyeluruh di Selat Hormuz yang menghambat jalur distribusi energi menuju Asia. Blokade tersebut menghentikan aliran nafta, produk sampingan penyulingan minyak bumi yang menjadi bahan dasar plastik.
Meskipun ada kemajuan dalam negosiasi kesepakatan damai untuk mengakhiri perang yang pecah sejak akhir Februari, pemulihan pasokan energi diprediksi memakan waktu lama. Sektor industri makanan di berbagai negara Asia pun mulai merasakan dampak langsungnya. Di Vietnam, produsen makanan laut Minh Phu Seafood Corp mencatat lonjakan ongkos kemasan plastik hingga sekitar 50% sejak awal konflik. Perusahaan eksportir terbesar di negara tersebut sempat menyerap biaya tambahan, namun kini berencana menaikkan harga jual.
"Ketiga pemasok botol plastik kami bergantung pada produsen resin HDPE, yang mendapatkan nafta mereka dari Timur Tengah," kata Kepala Keuangan Maryland Farm Fresh Bhd., Mohd Khairul Mat Hassan. Mohd Khairul Mat Hassan menambahkan bahwa preferensi pasar yang tetap menyukai botol plastik karena lebih kokoh dan menjaga rasa turut memperumit masalah. Perusahaan susu asal Malaysia ini akhirnya terpaksa memakai karton kertas berukuran lebih kecil sebagai alternatif.
Tekanan serupa melanda Jepang dan Korea Selatan selaku importir utama nafta yang terpaksa mencari pasokan dari negara lain dengan biaya lebih tinggi. Produsen wadah plastik Chai Heng Plastic Mfg (M) Sdn yang beroperasi di Malaysia dan Singapura juga telah menaikkan harga produk hingga 20%. Di sektor pangan pokok, pemasok karton telur terbesar di Jepang, Kurihara Seisakusho Co., terpaksa mengerek harga bulan ini akibat biaya pengadaan yang melonjak drastis.
Sementara itu, industri beras di Thailand menghadapi tekanan besar karena pengeluaran untuk kemasan membubung hingga 40%. "Para pengemas beras telah berusaha untuk menyerap kenaikan harga sejauh ini, tetapi belum jelas berapa lama lagi mereka akan bertahan," kata Presiden Asosiasi Pengemas Beras Thailand, Yongyut Phurkmahadamrong.
Dampak krisis ini bahkan meluas hingga ke sektor pertanian di Australia timur laut. Perusahaan Daintree Fresh yang mengekspor melon ke Jepang mengalami pembengkakan total biaya operasional hingga 50% akibat mahalnya terpal plastik penekan gulma, bahan bakar, dan pupuk.
"Kasus yang sangat menyedihkan adalah saya memiliki permintaan yang kuat dari Jepang. Saya harus pergi ke sana dan memberi tahu mereka bahwa saya tidak dapat menanam untuk mereka tahun ini karena biaya kami terlalu tinggi," kata Direktur Daintree Fresh, Shaun Jackson.