Perang Iran Mengubah Arus Perdagangan Petrokimia China ke Asia

Share

Konflik bersenjata di Iran mengubah peta perdagangan petrokimia global setelah mengganggu pasokan bahan baku dari Teluk Persia, sehingga memicu lonjakan ekspor dari China ke wilayah Asia Tenggara pada Rabu (1/7/2026), dilansir dari Bloombergtechnoz. Kondisi darurat ini mendorong para importir di Vietnam dan Indonesia mengalihkan pesanan komoditas esensial untuk pembuatan plastik, tekstil, serta karet menuju pabrik-pabrik di Negeri Tirai Bambu. Langkah pengalihan pasar ekspor tersebut dinilai menjadi strategi krusial bagi produsen China dalam mengikis tumpukan kelebihan kapasitas industri domestik mereka yang sedang mengalami pelambatan ekonomi.

Analis utama untuk bahan kimia dasar dan bahan baku di ICIS, Darryl Xu menjelaskan bahwa situasi kritis di Timur Tengah telah mengubah peta ketergantungan para pelaku usaha hilir.

"dipecah" kata Darryl Xu, analis utama untuk bahan kimia dasar dan bahan baku di ICIS, "Hal ini memungkinkan produsen petrokimia China membangun rantai pasokan ke seluruh Asia." Berdasarkan data ICIS, gangguan pengapalan komoditas melewati Selat Hormuz memaksa China mengoptimalkan persediaan dalam negeri, memaksimalkan industri konversi batu bara, hingga menaikkan impor etana asal Amerika Serikat.

Hasilnya, akumulasi ekspor tersebut membuat China mencatatkan posisi sebagai eksportir bersih olefin untuk pertama kalinya sepanjang April dan Mei, yang mencakup sekitar 10 persen dari total permintaan dunia. Analis BloombergNEF, Philip Geurts menyoroti anjloknya volume impor bersih polietilen China yang turun drastis menjadi hanya 35.000 ton pada Mei dibandingkan angka 988.000 ton pada Februari.

"Menurut saya, berita terbesar sejauh ini adalah polietilen," kata analis BloombergNEF, Philip Geurts, setelah impor bersih anjlok menjadi hanya 35.000 ton pada Mei dari 988.000 ton pada Februari, bulan dimulainya perang. "Saya rasa kita belum pernah melihat perubahan arus perdagangan sebesar ini." Meskipun pakta perdamaian berpotensi tercapai antara Amerika Serikat dan Iran, para pelaku pasar diperkirakan tetap menghindari risiko logistik di jalur Selat Hormuz untuk masa depan. Guna mengantisipasi dinamika pasar global tersebut, China kini memproyeksikan perluasan kapasitas produksi etilena tahunan mereka dari 60 juta metrik ton menjadi 80 juta metrik ton pada akhir dekade ini.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author