Tiga Peralatan Dapur Ini Bisa Mengancam Kesehatan Keluarga
Sejumlah perlengkapan dapur yang sering digunakan sehari-hari ternyata berpotensi melepaskan zat berbahaya ke dalam makanan. Penggunaan yang salah atau kondisi barang yang sudah rusak dapat memicu risiko gangguan kesehatan dalam jangka panjang. Para ahli menyarankan masyarakat untuk lebih cermat dalam memilih peralatan memasak demi meminimalkan paparan zat kimia berbahaya maupun mikroplastik.
Perlengkapan ini dipilih karena praktis dan terjangkau, namun menyimpan bahaya tersembunyi. Dilansir dari HaiBunda, berikut adalah tiga peralatan dapur yang dapat mengancam kesehatan berdasarkan data ilmiah.
Sendok sayur, spatula, dan centong berbahan plastik hitam berpotensi melepaskan senyawa penghambat api (flame retardants) beracun seperti decabromodiphenyl ether (decaBDE) ke dalam masakan. Zat ini awalnya dipakai pada perangkat elektronik untuk mencegah kebakaran.
Masalah muncul ketika limbah elektronik didaur ulang menjadi bahan baku pembuatan alat dapur. Studi menemukan sekitar 85 persen produk rumah tangga berbahan plastik hitam mengandung zat penghambat api beracun tersebut. Paparan decaBDE dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, gangguan hormon, tiroid, saraf, serta masalah reproduksi. Penggunaannya telah dilarang di Inggris sejak 2018 dan dihentikan di Amerika Serikat oleh EPA pada 2021.
Para ilmuwan memperkirakan seseorang dapat terpapar rata-rata 34,7 bagian per sejuta (ppm) decaBDE setiap hari dari alat dapur ini. Zat tersebut dapat menumpuk di dalam tubuh melalui proses bioakumulasi. Sebagai alternatif, para ahli menyarankan penggunaan peralatan berbahan stainless steel atau food-grade silicone. Bahan stainless steel dinilai lebih tahan suhu tinggi dan tidak mudah melepaskan zat kimia berbahaya.
2. Talenan Plastik
Setiap kali permukaan talenan plastik digores dengan pisau, partikel mikroplastik dapat terlepas dan bercampur dengan bahan makanan. Penelitian dari University of North Dakota mengungkapkan dampak signifikan dari aktivitas ini. Memotong sayuran di atas talenan polipropilena dan polietilena menghasilkan hingga 1.114 partikel mikroplastik dari satu kali proses pemotongan.
Jumlah ini setara dengan sekitar 15 mg material plastik. Jika terakumulasi selama satu tahun, seseorang diperkirakan dapat mengonsumsi sekitar 50 gram mikroplastik. Partikel ini dapat masuk ke pembuluh darah arteri sehingga meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.
Mikroplastik juga dikaitkan dengan kerusakan DNA, peradangan, serta risiko kanker dan gangguan autoimun. Banyak mikroplastik mengandung bahan kimia pengganggu hormon yang memicu gangguan reproduksi hingga asma.
Para ahli menyarankan untuk mengganti talenan plastik dengan bahan kayu atau bambu. Kedua material tersebut lebih ramah lingkungan, tahan lama, dan secara alami menghambat pertumbuhan bakteri.
3. Wajan Antilengket
Lapisan wajan antilengket mengandung kelompok bahan kimia PFAS (per- and polyfluoroalkyl substances) yang dikenal sebagai forever chemicals karena sulit terurai. Zat ini dikaitkan dengan kerusakan hati, penyakit tiroid, obesitas, dan kanker.
Wajan modern umumnya memakai lapisan PTFE yang masih dianggap aman jika digunakan sesuai petunjuk. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan mengenai dampak suhu sangat tinggi atau jika lapisan sudah tergores. Dahulu, proses produksi wajan menggunakan PFOA yang memicu risiko kerusakan ginjal dan kolesterol tinggi. EPA telah mewajibkan penghentian penggunaan PFOA sejak 2015 untuk produksi wajan baru.
Masyarakat disarankan berhati-hati menggunakan wajan lama yang diproduksi sebelum aturan tersebut berlaku. Pengguna wajib menghindari pemanasan berlebihan dan segera mengganti peralatan dapur yang sudah rusak atau tergores.