Penyintas Kanker Payudara Tetap Bisa Menyusui Bayi Secara Aman
Diagnosis kanker payudara tidak selalu menutup kesempatan seorang ibu untuk memberikan ASI kepada buah hatinya. Keputusan pemberian ASI ini amat bergantung pada jenis tindakan medis, prosedur operasi, serta obat-obatan yang dikonsumsi.
Seperti dilansir dari HaiBunda, Dr Preetha Joshi selaku Consultant Neonatal, Pediatric and Cardiac Intensivist menjelaskan bahwa tingkat keparahan kanker dan jenis penanganan sangat menentukan kemampuan menyusui seorang wanita.
"Jawabannya bergantung pada sejauh mana kanker tersebut dan jenis pengobatan serta prosedur yang dilakukan," ujar Dr Joshi.
Ibu yang menjalani operasi lumpektomi atau mastektomi parsial masih mempertahankan sebagian jaringan payudaranya. Namun, terapi radiasi pada area tersebut berisiko memicu terbentuknya jaringan parut atau fibrosis pada kelenjar lobulus.
Dr Joshi menjelaskan, "Radiasi menyebabkan fibrosis pada lobulus, yaitu kelenjar kecil yang menghasilkan ASI. Dalam banyak kasus, saluran ASI tidak lagi merespons sinyal hormon kehamilan dengan baik sehingga payudara yang terkena mungkin tidak membesar seperti biasanya."
Sementara itu, prosedur mastektomi total pada satu sisi membuat payudara tersebut tidak bisa lagi memproduksi ASI. Meski demikian, sisi payudara lain yang sehat masih berpotensi menyusui bayi dengan optimal.
"Setelah mastektomi total atau pengangkatan seluruh payudara, menyusui hanya dengan payudara yang tidak terkena kanker tetap dapat dilakukan," kata Dr Joshi.
"Satu payudara dapat menyusui satu bayi," lanjutnya.
Kebutuhan ASI bayi tetap dapat terpenuhi dari satu sisi payudara, atau disesuaikan dengan saran medis bila memerlukan asupan tambahan. Dokter anak dan konselor laktasi perlu memantau tumbuh kembang bayi secara berkala.
Mengenai kekhawatiran sel kanker menular melalui ASI, Dr Joshi menegaskan bahwa riwayat penyakit tersebut tidak membahayakan kualitas ASI.
"Sebagian perempuan mengira ASI dari payudara yang pernah mendapat pengobatan kanker mengandung kanker. Hal itu tidak benar dan tidak ada bukti yang menunjukkan demikian," tuturnya.
"Ada juga anggapan bahwa menyusui setelah kanker payudara meningkatkan risiko kekambuhan. Ini juga tidak benar," ujar Dr Joshi.
Faktor keamanan utama justru terletak pada jenis terapi medis yang sedang dijalani oleh sang ibu. Penggunaan obat kemoterapi, terapi hormon, maupun terapi target berpotensi terikut ke dalam cairan ASI dan membahayakan kesehatan bayi.
Obat-obatan seperti tamoxifen, aromatase inhibitor, dan zat kemoterapi tidak sesuai dengan aktivitas menyusui. Pemberian terapi hormon biasanya perlu dihentikan sementara jika ibu berencana menyusui atas persetujuan tim medis.
"Jika pasien ingin menyusui, penghentian sementara terapi hormon harus direncanakan," jelas Dr Joshi.
Ibu sangat disarankan berdiskusi dengan dokter serta konselor laktasi sebelum memulai proses menyusui. Perencanaan matang sejak sebelum persalinan membantu memastikan pengobatan kanker dan pemenuhan nutrisi bayi berjalan aman.