Penyesuaian Harga Pertamax Dinilai Kurangi Beban APBN, Berpotensi Picu Migrasi ke Pertalite

Share

10 June 2026 11:10

Bloomberg Technoz, Jakarta – Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamina jenis Pertamax menjadi Rp16.250/liter dinilai dapat mengurangi beban anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), setelah selama beberapa bulan bensin RON 92 itu dikompensasi oleh pemerintah usai harga ditahan di level Rp12.300/liter.

Kendati begitu, kebijakan penaikan harga BBM nonsubsidi tersebut juga berpotensi membuat migrasi konsumsi dari Pertamax ke BBM bersubsidi atau Pertalite.

Investment Analyst Lead Stockbit Sekuritas Edi Chandren mengungkapkan, berdasarkan aturan yang berlaku, Pertamax seharusnya merupakan BBM nonsubsidi dan bukan merupakan Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) sehingga tak diberikan subsidi.

Kendati begitu, dalam perkembangannya, Pertamina sempat mengonfirmasi selisih harga keekonomian dengan harga jual Pertamax ditanggung oleh Pertamina dan akhirnya dikompensasi oleh negara, sehingga harga ditahan sebesar Rp12.300/liter sejak April 2026.

Dengan dinamika tersebut, Edi menilai kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250/liter berpotensi mengurangi beban APBN untuk membayar dana kompensasi energi.

Baca Juga

“Kami menilai bahwa masih terdapat ketidakjelasan apakah kenaikan harga jual Pertamax memiliki hubungan langsung atau tidak terhadap APBN. Namun, kami menilai bahwa kenaikan harga jual Pertamax ini tetap memberikan sinyal kedisiplinan terkait dengan harga energi,” kata Edi dalam keterangan resminya, Rabu (10/6/2026).

Terpisah, Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai keputusan menaikkan harga Pertamax sebesar 32% tersebut bakal memukul kelas menengah rentan.

Lebih jauh, masyarakat dihadapkan pilihan untuk membayar Pertamax lebih mahal atau membeli Pertalite dengan harga Rp10.000/liter.

Direktur Kebijakan Publik Celios Media Wahyudi Askar berpendapat kebijakan tersebut berpotensi memaksa masyarakat berpindah menggunakan BBM bersubsidi yakni Pertalite, sehingga berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi.

“Pengguna Pertamax 92 bukan cuma orang kaya, tetapi juga kelas menengah rentan. Ada pekerja, pegawai, guru, ojol, dan jutaan kelas menengah yang selama ini memilih BBM yang lebih baik untuk kendaraannya. Ketika margin kenaikannya terlalu jauh, opsinya adalah membayar lebih mahal, atau turun ke Pertalite,” kata Media dalam siaran pers, Rabu (10/6/2026).

Dia khawatir daya kelompok masyarakat menengah dan menuju kelas menengah bakal tertekan kenaikan harga Pertamax hingga 32% tersebut. Di sisi lain, jumlah penduduk rentan miskin juga berpotensi meningkat.

Dalam keterangan yang sama, Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira menilai beban belanja energi sudah meningkat gegara lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Bhima menilai ketika rupiah melemah hingga level Rp18.00/US$ maka biaya importasi komoditas minyak dan gas (migas) semakin mahal, sehingga semakin menekan komponen belanja kompensasi dan subsidi energi.

“Hasil simulasi sensitivitas perubahan asumsi makro APBN 2026 menjelaskan kaitan kegagalan mengendalikan kurs rupiah menyebabkan belanja negara bertambah Rp91,5 triliun,” kata Bhima.

Hari ini, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mengungkapkan kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300/liter menjadi Rp16.250/liter dilakukan setelah berkoordinasi dengan pemerintah dan mengevaluasi harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menjelaskan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengikuti aturan yang berlaku.

“Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal,” kata Roberth dalam siaran pers, Rabu (10/6/2026).

Dia juga mengungkapkan harga BBM bersubsidi jenis bensin dan solar atau Pertalite serta Solar, tetap ditahan harganya masing-masing Rp10.000/liter dan Rp6.800/liter.

Adapun, PT Pertamina Patra Niaga sempat mengonfirmasi harga keekonomian Pertamax sudah menembus sekitar Rp17.000-an/liter, ketika harga minyak dunia mengamuk.

Akan tetapi, atas hasil diskusi dengan pemerintah, perseroan memutuskan menahan harga Pertamax di level Rp12.300/liter sejak April.

Roberth mengungkapkan perseroan bakal menanggung selisih harga jual dan keekonomian Pertamax terlebih dahulu.

Setelah itu, pemerintah bakal membayarkan kompensasi energi dengan besaran yang bakal didiskusikan dan dibayarkan sesuai aturan yang berlaku.

“Ya, kurang lebih begitu kalau range hargannya [Pertamax di sekitar Rp17.000-an/liter],” kata Roberth ketika dihubungi, Selasa (12/5/2026).

“Untuk selisih, karena harga ditahan setiap bulan, diberikan kompensasi dari pemerintah untuk selisihnya setelah pembahasan,” tegas dia.

Adapun, anggaran subsidi dan kompensasi energi Indonesia pada 2026 dipagu senilai Rp381,3 triliun untuk BBM, gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) 3 kg, dan listrik.

Daftar Harga BBM Pertamina di Pulau Jawa:

– Pertamax: Rp16.250/liter

– Pertamax Turbo: Rp20.750/liter

– Pertamax Green 95: Rp17.000/liter

– Dexlite: Rp23.000/liter

– Pertamina Dex: Rp24.800/liter

– Pertalite: Rp10.000/liter

– Solar: Rp6.800/liter

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: apbn BBM Pertamax Pertamina subsidi
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author