Pertamina Menyesuaikan Harga BBM Nonsubsidi Per 18 Juli 2026
PT Pertamina Patra Niaga memberlakukan penyesuaian harga terbaru untuk sejumlah jenis bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di seluruh SPBU Indonesia yang terpantau masih berjalan hingga Sabtu, 18 Juli 2026.
Dilansir dari Kompas.com dan Detik.com, kebijakan yang efektif sejak awal bulan ini menurunkan harga Pertamax Turbo menjadi Rp 19.300 hingga Rp 20.150 per liter dari tarif sebelumnya Rp 20.750 sampai Rp 21.650 per liter.
Penurunan nominal juga menyasar Dexlite yang kini dijual seharga Rp 19.700 sampai Rp 21.150 per liter, serta Pertamina Dex yang turun menjadi Rp 21.150 hingga Rp 25.350 per liter.
Sebaliknya, produk nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamax Green 95 dipastikan tidak bergerak sejak 10 Juni 2026, begitupun dengan jenis BBM subsidi yang tetap dipatok Rp 10.000 untuk Pertalite dan Rp 6.800 bagi Biosolar.
Berikut adalah rincian daftar harga BBM komoditas nonsubsidi dan subsidi yang tersebar di wilayah Indonesia per 18 Juli 2026:
| Wilayah | Pertalite | Pertamax | Pertamax Turbo | Dexlite | Pertamina Dex | Solar Subsidi |
|---|---|---|---|---|---|---|
| DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT | Rp 10.000 | Rp 16.250 | Rp 19.300 | Rp 19.700 | Rp 21.150 | Rp 6.800 |
| Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Sulawesi (Utara, Gorontalo, Tengah, Tenggara, Selatan, Barat), Kalimantan (Barat, Tengah, Timur, Selatan, Utara), Papua (Selatan, Tengah, Pegunungan) | Rp 10.000 | Rp 16.650 | Rp 19.750 | Rp 20.150 | Rp 21.650 | Rp 6.800 |
| Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau | Rp 10.000 | Rp 17.000 | Rp 20.150 | Rp 20.550 | Rp 22.100 | Rp 6.800 |
| FTZ Sabang | Rp 10.000 | Rp 15.250 | – | Rp 18.450 | – | Rp 6.800 |
| FTZ Batam | Rp 10.000 | Rp 15.500 | Rp 18.350 | Rp 18.700 | Rp 20.100 | Rp 6.800 |
| Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, Papua Barat Daya | Rp 10.000 | Rp 16.650 | – | Rp 20.150 | Rp 21.650 | Rp 6.800 |
Meskipun terdapat penurunan harga pada sektor nonsubsidi, antrean panjang kendaraan dilaporkan masih mengular di berbagai SPBU untuk pengisian BBM bersubsidi jenis Pertalite.
Berdasarkan laporan TribunStyle.com, situasi di lapangan tersebut mendorong sebagian konsumen memilih membeli bahan bakar di pengecer Pertamini demi efisiensi waktu operasional harian mereka.
Terkait kondisi antrean yang padat tersebut, keluhan langsung disampaikan oleh seorang warga Kecamatan Kebakkramat, Karanganyar, Jawa Tengah.
"Kadang mau beli Pertalite di SPBU saja saya pernah mengantre sejam, dan itu membuat aktivitas saya lainnya terganggu," curhat Lia kepada TribunStyle, Sabtu (18/7/2026).
Akibat durasi menunggu yang menyita waktu tersebut, ia akhirnya memutuskan untuk beralih membeli pasokan bahan bakar kendaraan ke kios Pertamini terdekat.
"Daripada saya harus berjuang melawan antrean yang panjang, saya lebih memilih beli di pertamini dekat rumah. Waktu tidak terbuang, tenaga pun tidak terkuras pula," katanya.
Konsumen ini menilai bahwa keharusan membayar dengan tarif yang sedikit lebih tinggi di tingkat pengecer tidak menjadi masalah utama asalkan durasi perjalanannya tidak terhambat.
"Saya sih lebih memilih keluar uang sedikit lebih banyak, daripada setiap waktu harus ikut antrean panjang di SPBU, eman-eman waktunya," tandas Lia.
Pertamina menyatakan penyesuaian tarif berkala dipengaruhi faktor fluktuasi minyak mentah dunia, nilai tukar mata uang, serta besaran Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) daerah.