Penyebab Kanker Payudara Pasca Melahirkan Punya Risiko Lebih Tinggi
Risiko kanker payudara yang terdiagnosis dalam periode beberapa tahun pasca persalinan dinilai lebih agresif. Kondisi kesehatan medis ini dikenal dengan istilah postpartum breast cancer atau kanker payudara pasca persalinan.
Seperti dilansir dari HaiBunda, perubahan biologis pada jaringan payudara selama masa kehamilan dan menyusui menjadi salah satu faktor utama penentu risiko tersebut.
Jaringan payudara berkembang pesat saat hamil untuk persiapan produksi ASI akibat lonjakan hormon estrogen, progesteron, dan prolaktin. Setelah masa menyusui selesai, jaringan payudara melewati fase involusi untuk kembali ke kondisi semula.
Proses involusi memicu perubahan sel serta lingkungan sekitar jaringan yang dapat mendukung pertumbuhan sel kanker. Penelitian dalam jurnal Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention menunjukkan tingkat kematian akibat kanker payudara meningkat pada perempuan yang terdiagnosis dalam jangka 5 tahun setelah melahirkan.
Riset dari University of North Carolina Lineberger Comprehensive Cancer Center menambahkan bahwa kanker payudara yang muncul pasca kehamilan cenderung berkarakteristik lebih agresif. Kondisi tersebut juga lebih sering ditemukan pada stadium lanjut karena perubahan mikro lingkungan jaringan.
Tantangan Deteksi Gejala pada Ibu Menyusui
Deteksi dini kanker payudara pasca melahirkan kerap menghadapi kendala karena gejalanya sering dianggap sebagai dampak wajar dari proses menyusui. Sebagian besar perempuan mengabaikan tanda awal akibat fokus merawat bayi.
Beberapa tanda penting yang perlu diwaspadai meliputi:
- Benjolan pada payudara yang tidak kunjung hilang setelah beberapa minggu.
- Perubahan bentuk atau ukuran pada salah satu payudara.
- Tekstur kulit payudara menyerupai kulit jeruk (peau d'orange).
- Puting tertarik ke dalam secara mendadak.
- Keluarnya cairan dari puting selain ASI.
- Rasa nyeri atau perubahan fisik yang tidak wajar.
Masalah payudara keras, bengkak, atau nyeri memang umum terjadi akibat sumbatan ASI dan mastitis. Namun, pemeriksaan medis tetap diperlukan apabila keluhan tidak membaik setelah perawatan standar.
Risiko Usia Muda dan Manfaat Menyusui
Data dari American Cancer Society mengindikasikan bahwa kanker payudara yang berkaitan dengan kehamilan lebih banyak ditemukan pada perempuan usia muda. Kesadaran yang rendah mengenai risiko usia muda membuat penanganan medis sering kali terlambat.
Di sisi lain, aktivitas menyusui tetap terbukti memberikan efek perlindungan jangka panjang. Penurunan risiko terjadi karena menyusui mengurangi frekuensi siklus menstruasi, sehingga memangkas durasi paparan hormon reproduksi.
Analisis Collaborative Group on Hormonal Factors in Breast Cancer terhadap hampir 50.000 perempuan dengan kanker payudara menunjukkan risiko menurun 4,3 persen untuk setiap 12 bulan masa menyusui. Selain itu, setiap riwayat persalinan mencatatkan penurunan risiko sebesar 7 persen.
Lembaga kesehatan dunia seperti WHO dan American Cancer Society turut mengonfirmasi bahwa menyusui membantu menurunkan risiko kanker payudara dan kanker ovarium. Konsultasi medis secara cepat sangat disarankan jika ditemukan perubahan yang tidak biasa pada payudara.