Penyakit Gusi Parah Ternyata Bisa Picu Kerusakan Ginjal Sejak Tahap Awal
Dampak periodontitis atau penyakit gusi terbukti tidak hanya merusak area rongga mulut. Beban peradangan kronis akibat kondisi ini juga memicu masalah kesehatan lain yang meluas ke organ tubuh penting.
Masalah gusi berdarah, kerusakan jaringan progresif, hingga kehilangan gigi kerap dianggap sebagai gangguan lokal. Namun, dilansir dari Detik Health, gangguan ini memiliki keterkaitan kuat dengan risiko penyakit ginjal kronis.
Sebuah penelitian berskala besar berbasis populasi di Jerman menemukan fakta baru mengenai hubungan ini. Penyakit gusi yang parah terdeteksi berkaitan langsung dengan penurunan fungsi ginjal, bahkan pada tahap awal disfungsi organ tersebut.
Para ilmuwan melakukan evaluasi mendalam terhadap penanda disfungsi ginjal dini. Evaluasi tersebut berfokus pada penurunan fungsi ginjal, kadar albuminuria, serta peran mediasi dari penanda inflamasi sistemik.
"Kami bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara periodontitis dan penanda disfungsi ginjal dini, termasuk penurunan fungsi ginjal dan albuminuria, serta mengeksplorasi peran mediasi potensial dari penanda inflamasi sistemik," tulis peneliti dalam International Journal of Oral Science yang dipublikasikan pada 6 April 2026.
Riset ini melibatkan 6.179 peserta dari Hamburg City Health Study di Jerman. Seluruh partisipan di dalam kohort berbasis populasi tersebut wajib menjalani pemeriksaan kesehatan gusi secara menyeluruh.
Klasifikasi tingkat keparahan periodontitis ditentukan lewat sistem penilaian American Academy of Periodontology atau European Federation of Periodontology tahun 2017. Kondisi ginjal diukur memakai Estimated Glomerular Filtration Rate dan Urine Albumin-Creatinine Ratio.
Sementara itu, evaluasi kontribusi inflamasi sistemik dilakukan dengan mengukur High-Sensitivity C-Reactive Protein dan interleukin-6. Hasil analisis menunjukkan adanya konsistensi antara buruknya kesehatan periodontal dengan penurunan fungsi ginjal.
Korelasi Keparahan Penyakit Gusi
Prevalensi penderita periodontitis berat melonjak drastis dari 14 persen pada individu berstatus fungsi ginjal normal menjadi 36 persen pada kelompok dengan penurunan fungsi ginjal sedang. Pola yang sama turut ditemukan pada kondisi albuminuria.
Peserta dengan kadar albumin tinggi dalam urine cenderung mengalami masalah gusi dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi. Indikator kerusakan periodontal kumulatif seperti hilangnya perlekatan jaringan penyangga gigi juga memburuk seiring penurunan fungsi organ ekskresi tersebut.
Keterkaitan ini tetap bertahan secara independen walau tim peneliti sudah memperhitungkan variabel lain. Faktor pengondisi seperti usia, jenis kelamin, penyakit diabetes, hingga kebiasaan merokok tidak mengubah hasil akhir analisis.
Peradangan sistemik diduga ikut ambil bagian dalam memediasi hubungan kedua penyakit tersebut, meski hanya bersifat sebagian. Deteksi dini faktor risiko ini menjadi krusial mengingat penyakit ginjal kronis umumnya berkembang tanpa gejala awal.
"Dengan menunjukkan adanya hubungan antara periodontitis dan penanda disfungsi ginjal dini, studi ini menyoroti kesehatan mulut sebagai jendela potensial untuk kesehatan ginjal," ujar Prof Dr Aarabi, salah satu pemimpin studi.