Penelitian Ungkap Paparan Tinggi Zat Kimia PFAS pada ASI di Belanda
Paparan zat kimia berbahaya, per-and polyfluoroalkyl substances (PFAS), kini menjadi perhatian serius setelah penelitian menemukan senyawa ini terdeteksi luas dalam Air Susu Ibu (ASI) di Belanda, dilansir dari HaiBunda. PFAS merupakan kelompok bahan kimia sintetis seperti PFOA, PFOS, dan GenX yang telah diproduksi dan dimanfaatkan oleh berbagai industri global sejak dekade 1940-an.
Jumlah varian bahan kimia ini diperkirakan mencapai 9.000 hingga 12.000 jenis. Senyawa PFAS tersebar dalam lebih dari 4.700 jenis produk, mencakup peralatan medis penyelamat jiwa, instrumen kesehatan, hingga berbagai perabotan rumah tangga dan barang konsumsi harian.
Sebuah riset terbaru di Belanda menunjukkan bahwa seperlima bayi yang mendapat ASI di negara tersebut terpapar bahan kimia PFAS dalam jumlah berlebih. Institut Nasional untuk Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan (RIVM) Belanda menguji 1.629 sampel ASI dan menemukan PFAS pada seluruh sampel tersebut.
Hasil penelitian yang mencengangkan ini diungkapkan oleh peneliti utama, Joke Herremans, dengan 18 persen sampel memiliki kadar PFAS di atas ambang batas aman. PFAS, yang kerap dijuluki 'bahan kimia abadi' karena sifatnya yang sangat lambat terurai, adalah istilah umum untuk 29 bahan kimia yang sering digunakan dalam produk sehari-hari seperti kosmetik, sampo, cat, dan kemasan makanan.
Paparan lingkungan terhadap senyawa ini telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker dan disfungsi hormon. Selain itu, paparan PFAS dalam dosis tinggi pada bayi dapat mengganggu sistem imun, meningkatkan kerentanan terhadap penyakit, serta menurunkan efektivitas vaksin.
Data RIVM merinci bahwa PFOS dan PFOA, dua jenis PFAS utama, ditemukan di hampir seluruh sampel. Empat varian PFAS lainnya terdeteksi pada 93 persen sampel, sementara 21 varian sisanya nyaris tidak ditemukan.
Meskipun demikian, RIVM mencatat adanya penurunan kadar PFAS dibandingkan dengan studi berskala kecil yang dilakukan enam tahun silam. Penurunan ini mengindikasikan bahwa kebijakan pemerintah Belanda untuk membatasi penggunaan PFAS secara komersial telah memberikan dampak positif. Penggunaan PFOS telah dilarang pada tahun 2008, disusul pelarangan PFOA pada tahun 2020.
"Ini sangat mengkhawatirkan," kata Herremans.
Manfaat Menyusui Tetap Diutamakan
Menanggapi temuan ini, RIVM tetap menganjurkan para ibu baru untuk memberikan ASI jika memungkinkan, mengingat susu formula bayi juga mengandung kadar PFAS yang signifikan.
"ASI tidak hanya mengandung nutrisi penting, tetapi juga zat yang melindungi dari penyakit," ujar Herremans.
Herremans juga menasihati para ibu untuk tidak mengandalkan tes komersial dalam mengukur kadar PFAS pada ASI mereka. Belum ada rekomendasi batas aman yang jelas untuk menghentikan pemberian ASI berdasarkan hasil tes tersebut.
Di sisi lain, American Academy of Pediatrics konsisten merekomendasikan pemberian ASI, terlepas dari potensi kontaminasi lingkungan. ASI tetap dinilai sebagai sumber nutrisi optimal bagi bayi, menawarkan berbagai manfaat kesehatan yang esensial.
Untuk meminimalkan paparan PFAS, disarankan bagi ibu menyusui dan perempuan usia reproduksi untuk mengurangi kontak dengan sumber potensial, seperti kemasan makanan, air minum yang tercemar, dan produk pelapis anti-noda atau anti-air. Pemantauan kesehatan rutin dan konsultasi dokter sangat disarankan untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi.