Pendaki Legendaris Nimsdai Gugur Akibat Longsoran Salju Mematikan

Share

Pendaki legendaris Nimsdai (Nirmal Purja) meninggal dunia setelah diterjang longsoran salju ekstrem di pegunungan tinggi, fenomena yang terjadi ketika lapisan salju tebal runtuh dan meluncur dengan cepat ke bawah lereng gunung, menurut laporan Detik Health.

Menurut Anne St. Clair dari Avalanche Canada, peluang bertahan hidup korban longsoran salju sangat bergantung pada waktu penyelamatan. Peluang bertahan hidup mencapai 80% jika berhasil ditemukan dalam 10 menit pertama, menurun menjadi 40% setelah 15 menit, dan kurang dari 10% setelah 35 menit.

Data dari National Snow & Ice Data Center (NSIDC) menunjukkan longsoran salju besar dapat melepaskan hingga 300.000 yard kubik salju, setara dengan menutupi 20 lapangan sepak bola dengan salju setinggi 3 meter.

Profesor Johan Gaume dari Swiss Federal Institute of Technology di Lausanne menjelaskan bahwa salju bersifat kompleks karena dapat bertindak sebagai zat padat sekaligus cair. Ada tiga jenis longsoran salju yang dikenal: Loose Snow Avalanche, Glide Snow Avalanche, dan Slab Avalanche, yang terakhir merupakan jenis paling berbahaya dan menyebabkan 95 persen kecelakaan fatal manusia.

Ethan Greene, Direktur Colorado Avalanche Information Center (CAIC), menyatakan bahwa kematian akibat longsoran salju sering disebabkan oleh trauma fisik berat dan asfiksia. "Di Amerika Serikat, 25% kematian akibat trauma fisik, sementara asfiksia menjadi penyebab kematian kedua yang paling umum," ujarnya.

Greene menambahkan bahwa korban yang selamat dari hantaman salju tapi tertimbun tidak bisa membuang napas, sehingga menghirup karbon dioksida berlebihan hingga mati lemas. Pakar keselamatan merekomendasikan untuk membuat ruang udara di sekitar wajah menggunakan tangan atau lengan sebelum salju membeku, sebagai upaya menyelamatkan diri sambil menunggu bantuan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author