Dokter Jelaskan Penanganan Usus Buntu Tanpa Operasi dan Risiko Kambuh

Share

Penanganan penyakit usus buntu atau apendisitis tidak selalu memerlukan tindakan pembedahan pada kondisi medis tertentu, Kamis (13/8/2026). Dilansir dari Detik Health, spesialis penyakit dalam Siloam Hospitals dr Vardian Mahardika, M.Biomed, SpPD, AIFO-K menjelaskan bahwa apendisitis terbagi menjadi kategori sederhana (uncomplicated) dan komplikasi (complicated).

Menurut dokter yang akrab disapa dr Dika ini, pemberian obat antibiotik tanpa jalur bedah dapat menjadi pilihan terapi bagi pasien kriteria tertentu yang infeksinya belum mengalami perforasi.

"Kalau uncomplicated, artinya meradang tapi belum pecah atau membentuk abses. Pada pasien terpilih, antibiotik tanpa operasi ini bisa menjadi pilihan. Tetapi tetap ada risiko untuk kambuh dan suatu saat membutuhkan operasi," kata dr Vardian Mahardika, M.Biomed, SpPD, AIFO-K dari Siloam Hospitals.

Sebaliknya, tindakan medis yang lebih agresif wajib dilakukan jika peradangan usus buntu sudah menimbulkan abses, pecahnya dinding organ, atau penyebaran infeksi.

"Operasi pengangkatan apendiks, terutama dengan cara laparoskopi tetap merupakan terapi bedah standar," kata dr Dika.

Di samping tindakan penanganan, proses identifikasi apendisitis biasanya mengandalkan pemindaian CT-Scan yang menunjukkan gambaran khas berupa lingkaran berlapis.

"Ini yang disebut target or doughnut sign dan merupakan tanda yang mendukung appendicitis," kata dr Dika.

Diagnosis penyakit usus buntu tidak boleh hanya mengandalkan satu tanda pencitraan semata, melainkan harus mempertimbangkan bentuk fisik apendiks yang sehat.

"Apendiks normal biasanya berbentuk tabung kecil, bisa ditekan, dindingnya nggak menebal dan diameter luarnya umumnya nggak lebih dari 6 mm. Tetapi memang diagnosisnya nggak boleh dari satu tanda USG saja," kata dr Dika.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author