Pemprov Lampung Sepakati Studi Kelayakan Kawasan Industri Katibung
Pemerintah Provinsi Lampung menandatangani kesepakatan bersama mengenai Studi Kelayakan Pembangunan Multiklaster rencana Kawasan Industri Energi Strategis Terintegrasi Katibung di Ruang Kerja Gubernur Lampung, Jumat (5/6), guna mendorong masuknya investasi strategis.
Kesepakatan awal untuk mempercepat pengembangan kawasan industri energi terintegrasi ini dilansir dari Detikcom ditandatangani oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan Direktur Utama PT Menamas Bakti S. Luddin.
Proyek tersebut diproyeksikan membuka lapangan kerja baru, meningkatkan aktivitas ekonomi daerah, serta memperkuat posisi Lampung sebagai pusat energi nasional. Pemerintah Provinsi Lampung menyatakan akan mengawal proses ini melalui koordinasi dengan kementerian terkait.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal memberikan penegasan bahwa studi kelayakan menjadi tahapan krusial agar seluruh proses pembangunan berjalan terukur dan memberikan dampak optimal.
"Tentunya dalam pelaksanaannya harus dilaksanakan dengan baik, sehingga mampu memberikan manfaat bagi Lampung serta Indonesia," ujar Rahmat Mirzani Djausal, Gubernur Lampung.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangannya pada Senin (8/6/2026). Keberadaan kawasan industri ini juga dinilai berpotensi menggerakkan sektor pendukung seperti logistik, perdagangan, transportasi, perhotelan, hingga UMKM.
Sementara itu, Direktur Utama PT Menamas Bakti S. Luddin menjelaskan bahwa persiapan teknologi, pendanaan, dan pemasaran proyek tersebut kini telah siap. Pengembangan kawasan ini telah menarik perhatian perusahaan energi internasional dan memperoleh dukungan dana dari Samko Holdings Luxembourg Ltd.
Pemilihan Katibung didasarkan pada pelabuhan alami berkedalaman 24 meter yang memungkinkan kapal tanker berukuran Very Large Crude Carrier bersandar langsung. Infrastruktur ini dinilai mampu menekan biaya logistik dan meningkatkan efisiensi distribusi energi.
Pada tahap awal, kawasan ini akan dilengkapi kilang minyak berkapasitas 300.000 barel per hari untuk memproduksi LPG, nafta, bensin, jet fuel, aspal, dan fuel oil. Proyek ini juga mengintegrasikan fasilitas produksi bioetanol untuk menurunkan emisi karbon hingga 60 persen sekaligus memberdayakan sektor pertanian lokal.