Pemprov DKI Dorong Warga Jakarta Budayakan Memilah Sampah dari Rumah

Share

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah berupaya mengubah pola pengelolaan sampah dengan mendorong masyarakat memilah dan mengolahnya sejak dari lingkungan rumah tangga. Kebiasaan baru ini diharapkan dapat menekan volume limbah yang langsung berakhir di tempat pembuangan akhir.

Seperti dikutip dari Detikcom, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan bahwa perubahan pola tersebut memerlukan konsistensi yang berkelanjutan serta dukungan dari berbagai elemen. Kerja sama antara pemerintah, warga, komunitas, beserta sektor usaha menjadi elemen krusial dalam menciptakan dampak nyata bagi lingkungan.

"Konsistensi dan kolaborasi adalah kunci. Jika seluruh elemen masyarakat terus bergerak bersama, saya optimistis pengelolaan sampah di Jakarta akan semakin baik dan memberi manfaat nyata bagi lingkungan," kata Pramono saat membuka Jakarta Eco Future Festival (JEFF) 2026 di Balai Kota Jakarta, Jumat (3/7/2026).

Agenda JEFF 2026 yang berlangsung pada 3-4 Juli ini memfasilitasi berbagai ruang diskusi, lokakarya, talk show, impact talk, hingga penyerahan apresiasi bagi aktivis lingkungan. Pembahasan di dalamnya berfokus pada isu manajemen sampah, ekonomi sirkular, perbaikan kualitas udara, dan penerapan gaya hidup hijau.

Acara tersebut didesain sebagai percontohan kegiatan minim sampah atau Less Waste Event melalui pengurangan timbulan limbah sejak awal, pemilahan sisa sampah, serta penggunaan wadah makanan dan minuman secara berulang.

"Perubahan besar lahir dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Karena itu, saya mengajak seluruh warga Jakarta menjadikan memilah sampah sebagai budaya baru menuju kota yang lebih bersih dan berkelanjutan," ujar Pramono.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi Asikin menjelaskan bahwa prinsip minim sampah tidak hanya terbatas pada skala domestik rumah tangga, melainkan dapat diimplementasikan dalam acara publik yang melibatkan banyak massa.

"Melalui JEFF 2026, kami ingin menunjukkan bahwa acara besar pun bisa diselenggarakan dengan lebih bijak, tertib, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan," kata Dudi.

Pihak panitia menyediakan 13 set wadah sampah terpilah di lokasi festival yang terbagi dalam kategori organik, anorganik, serta residu. Anggota Pramuka Saka Kalpataru dikerahkan di tiap titik untuk memandu pengunjung agar membuang sampah sesuai kategorinya.

Sistem penyaluran limbah hasil festival ini langsung dikelola berdasarkan jenisnya guna memastikan seluruh material diproses secara tepat guna oleh pihak terkait.

"Setiap sampah akan dikelola sesuai jenisnya. Sampah organik akan diolah menjadi kompos dan pakan maggot, sampah anorganik dikumpulkan melalui Waste Station Balai Kota, sementara sampah residu akan diangkut ke TPST Bantargebang," jelas Dudi.

Penyelenggaraan JEFF 2026 turut menggandeng Dietplastik Indonesia dalam menerapkan Protokol Guna Ulang. Para penyedia tenan makanan dan minuman menggunakan wadah khusus yang wajib dikembalikan ke pos pengumpulan untuk dicuci dan digunakan kembali.

Dalam festival ini, Pemprov DKI Jakarta berhasil memperoleh penghargaan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas pencapaian pembuatan eco enzyme serentak dengan jumlah peserta terbanyak. Pencapaian ini diharapkan Pramono menjadi pemantik gerakan pengolahan sampah yang lebih masif di tingkat rumah tangga.

Langkah nyata lain yang ditempuh Pemprov DKI adalah dengan meresmikan Waste Station atau Bank Sampah Balai Kota sebagai wujud percontohan pemilahan sampah di lingkungan instansi pemerintahan.

Gerakan Swadaya Pemilahan Sampah oleh Warga

Aktivitas pemisahan sampah secara mandiri telah diterapkan di beberapa kawasan permukiman, salah satunya di RW 08 Kelurahan Tanah Sereal, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat yang sudah berjalan sejak Maret 2026.

Ketua RW 08 Tanah Sereal Amir Hamzah Lubis memaparkan bahwa wilayahnya menaungi 320 unit rumah di sembilan RT. Mayoritas warga di kawasan padat penduduk tersebut kini telah aktif memisahkan limbah domestik mereka.

"Kami telah mendata rumah yang ada di wilayah RW 08 Tanah Sereal, berjumlah 320 rumah. Dari jumlah itu, sekitar 85 persen telah terlibat memilah sampah," katanya.

Menurut penuturan Amir, peningkatan partisipasi tersebut didorong oleh sosialisasi intensif bersama pihak kelurahan dan kecamatan. Gerakan lokal ini juga semakin kuat berkat payung hukum Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Pemilahan dan Pengelolaan Sampah dari Sumber.

Guna menyiasati keterbatasan ruang di permukiman padat, pengurus lingkungan membagikan kantong pemilahan khusus kepada warga. Sampah anorganik seperti botol plastik disalurkan ke bank sampah, sementara sampah organik diolah menjadi kompos, eco enzyme, serta dimasukkan ke lubang biopori.

"Di sini peran aktif pihak kelurahan dan kecamatan sangat mendukung, sekaligus melakukan pendampingan serta dukungan infrastruktur," ujar Amir.

Sementara itu, warga RW 01 Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur mengadopsi metode Takakura melalui Bank Sampah Berkah Srikandi untuk mengolah sisa makanan dari dapur.

Metode pengomposan ini memanfaatkan keranjang yang dilapisi kardus, sekam atau serbuk gergaji, dan kompos matang sebagai starter penguraian. Sampah organik dimasukkan secara bertahap lalu ditutup kembali dengan media pembantu guna mencegah munculnya bau tidak sedap.

Ketua RW 01 Pondok Bambu Edi Suwito menyampaikan bahwa seluruh fasilitas pendukung metode ini sangat praktis dan mudah disiapkan oleh warga di rumah masing-masing.

"Untuk meyakinkan warga melakukan pemilahan dan pengomposan dari rumah itu sangat mudah. Dimulai dari sarana dan prasarana yang juga mudah didapatkan, yaitu keranjang yang dilapisi kardus. Kemudian, bagian paling bawah diisi menggunakan serbuk gergaji atau sekam," kata Edi.

Warga cukup menambahkan kompos matang di atas lapisan dasar sebelum memasukkan sampah dapur harian. Proses penutupan kembali di lapisan teratas memastikan sisa makanan terurai tanpa mengganggu kenyamanan lingkungan sekitar.

"Dengan metode ini kita tidak usah khawatir proses pengomposan menjadi bau. Ini sangat mudah," sambungnya.

Manfaat kepraktisan metode Takakura ini turut dirasakan oleh salah seorang warga RW 01 Pondok Bambu, Darmawanti. Ia dapat memanfaatkan sampah organik dapur menjadi pupuk penyubur tanaman tanpa memerlukan alat-alat khusus yang rumit.

"Saya merasa lebih mudah dalam membuat kompos di rumah dengan memanfaatkan sampah-sampah organik dari rumah dan juga alat-alat yang mudah didapatkan di rumah," katanya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author