Pemkot Pangkalpinang Kucurkan Bantuan Modal dan Siapkan Rumah Produksi
Pemerintah Kota Pangkalpinang menyerahkan bantuan modal usaha sebesar Rp1 juta kepada sekitar 90 pelaku usaha mikro di Balai Betason Kantor Wali Kota Pangkalpinang pada Senin (10/8/2026).
Langkah ini menjadi bentuk komitmen Pemkot Pangkalpinang dalam mendorong penguatan ekonomi daerah, sekaligus memacu para pelaku UMKM agar mampu menembus pasar nasional hingga internasional melalui penyediaan sarana rumah produksi tematik di setiap kecamatan.
Wali Kota Pangkalpinang Prof. Saparudin menyampaikan bahwa bantuan modal yang diserahkan merupakan dorongan awal untuk memicu semangat para pelaku usaha mikro.
"Ini kita berikan sebagai stimulus. Ke depan usaha mereka akan kita monitor terus agar mereka menjadi embrio untuk mengelompokkan mereka ke dalam usaha-usaha yang sejenis," kata Saparudin.
Monitoring berkelanjutan dilakukan untuk menyaring pelaku usaha berpotensi yang kelak dihimpun ke dalam kelompok usaha terpadu. Pemerintah daerah berencana membangun rumah produksi bagi kelompok yang terbentuk, lengkap dengan jaminan fasilitasi pasar.
"Yang penting itu, begitu rumah produksi sudah terbangun, kita berupaya mencari off-taker atau pembelinya. Kalau kita bikin tetapi tidak ada pembeli, percuma," ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan penyerapan produk akan memicu ekspansi kapasitas produksi secara bertahap melalui pembentukan unit produksi tambahan.
"Nah, ketika ekosistem ini sudah kita bangun, inilah yang kita harapkan akan bergulir," katanya.
Guna memastikan keberlanjutan program, pemerintah kota bakal melibatkan lintas organisasi perangkat daerah, termasuk Dinas Tenaga Kerja untuk pelatihan SDM dan tata kelola manajemen profesional.
"Kita ingin rumah produksi ini terjaga. Manajemennya akan menjadi profesional," ujarnya.
Pemberian bantuan disasarkan pada sektor mikro guna menjaring wirausahawan yang tangguh dan konsisten. Berdasarkan data pemkot, terdapat lebih dari 29 ribu UMKM di Pangkalpinang.
"Kalau mereka menopang kehidupan tiga orang saja, berarti sekitar 80 ribu orang yang ditopang. Itu sudah sekitar sepertiga penduduk Kota Pangkalpinang," katanya.
Saparudin juga menegaskan bahwa konsep rumah produksi tematik akan disesuaikan dengan keunggulan komoditas lokal di tiap wilayah kecamatan.
"Dalam beberapa tahun ke depan, kita akan menyiapkan beberapa rumah produksi yang lain tergantung kepada temanya," ujar Saparudin.
Di Kecamatan Girimaya, pemkot merencanakan pusat industri kuliner otak-otak.
"Jadi nanti kita harapkan UMKM-UMKM di Girimaya ini semakin banyak yang bikin otak-otak," tambahnya.
Sementara itu, kawasan Kecamatan Bukit Intan diproyeksikan menjadi sentra kerupuk, dan wilayah Pangkalbalam difokuskan pada pengolahan hasil laut.
"Di Pangkalbalam itu nanti ada olahan-olahan ikan. Kita sudah punya rumah produksi ikan giling di dekat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ketapang, dan itu sudah mulai berproduksi," jelasnya.
Pengembangan rumah produksi tematik diharapkan mampu menaikkan mutu dan jangkauan produk lokal Pangkalpinang.
"Diharapkan dengan adanya rumah produksi, maka UMKM-UMKM ini menjadi naik kelas. Produk-produk kita akan bisa masuk ke pasar yang lebih luas, masuk ke pasar nasional bahkan internasional," pungkasnya.
Khusus fasilitas rumah produksi olahan nanas, pemerintah kota tinggal menunggu pengiriman sarana pendukung sebelum dioperasikan secara penuh.
“Kalau bangunan sudah selesai. Rumah produksi kita masih menunggu beberapa peralatan,” ujarnya.
Pemerintah menargetkan operasional fasilitas tersebut dapat diresmikan dalam waktu dekat.
“Mudah-mudahan bulan September kita bisa resmikan,” katanya.
Guna menjaga ketepatan sasaran, penyerahan dana stimulus mengacu pada kriteria teknis dalam Peraturan Wali Kota Pangkalpinang Nomor 12 Tahun 2026. Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan Kota Pangkalpinang Muhammad Yasin menyebutkan penerima bantuan meningkat dari 47 UMKM pada 2025 menjadi 90 UMKM pada 2026, dan ditargetkan mencapai 100 UMKM pada tahun depan.
“Kami menyadari bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian daerah. Pengaruhnya sangat besar dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan menumbuhkan sektor-sektor perekonomian baru,” katanya.
Pemerintah Kota Pangkalpinang berkomitmen mengawal program pemberdayaan UMKM ini secara berkelanjutan hingga tahun 2029.
“Harapannya bantuan ini dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas, sehingga kualitas UMKM di Pangkalpinang semakin baik dan mampu bersaing ke depannya,” ujarnya.
Wali Kota menambahkan bahwa seleksi penerima bantuan lanjutan akan terus menyasar pelaku usaha yang berkomitmen tinggi.
"Orang berbisnis ini kan tidak semua bisa. Tetapi mereka yang punya keinginan kuat, semangat, mampu bekerja keras dan konsisten menjalankan usahanya, ini yang akan kita pilih nanti," katanya.
Ia menekankan kembali pentingnya integrasi antara ketersediaan kapasitas produksi dan permintaan pasar dalam skema rumah produksi.
"Begitu rumah produksi itu sudah terbangun, kita berupaya mencari offtaker-nya, mencari pembelinya. Kalau kita bikin juga tapi enggak ada pembeli kan percuma," ujarnya.
Skema perluasan rumah produksi akan diterapkan saat kuota permintaan pasar melebihi kapasitas fasilitas utama.
"Misalnya rumah produksi ini hanya bisa memproduksi satu ton, sementara permintaannya dua ton, berarti perlu ada rumah produksi yang baru. Nah, inilah akan bergulir," kata Saparudin.
Pendekatan bertahap ini memprioritaskan wirausahawan yang menunjukkan ketahanan dan konsistensi operasional.
"Untuk orang berbisnis ini kan sebetulnya tidak semua orang bisa berbisnis. Tapi mereka yang punya keinginan yang kuat, semangat, mampu bekerja keras, kemudian konsisten menjalankan usahanya, ini akan kita pilih nantinya," ujarnya.
Kehadiran fasilitas rumah produksi nanas mendapat sambutan positif dari Rika, seorang warga setempat, yang berharap fasilitas tersebut mampu mendongkrak kesejahteraan petani dan pengrajin lokal.
"Khususnya pelaku usaha dan petani nanas di wilayah Pangkalpinang dan sekitarnya," katanya.