Pemkab Kukar dan Kubar Gelar Job Fair Tekan Pengangguran

Share

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menyelenggarakan Job Fair 2026 pada Selasa, 14 Juli 2026, di Gedung Putri Karang Melenu, Tenggarong Seberang, guna mengatasi masalah pengangguran melalui penyediaan ratusan lowongan kerja terstruktur.

Langkah serupa juga disiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Barat yang menjadwalkan bursa kerja pada akhir Agustus mendatang demi memitigasi dampak pemutusan hubungan kerja yang tinggi di wilayah tersebut.

Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, mengemukakan bahwa penyelenggaraan bursa kerja kali ini diformulasikan secara baru setelah mengevaluasi hasil kegiatan serupa pada tahun sebelumnya yang dinilai kurang efektif menyerap tenaga kerja.

"Kegiatan ini bagian dari wujud implementasi Kukar Idaman Terbaik yang merupakan visi besar pembangunan Kabupaten Kukar 2025–2030," ujar Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri.

Aulia Rahman Basri menjelaskan bahwa perbaikan sistem ini dilakukan demi memastikan hasil rekrutmen terpantau secara jelas oleh pemerintah daerah.

"Saya masih sangat ingat Job Fair tahun 2025 itu merupakan salah satu kegiatan awal pada saat kami barusan dilantik," jelas Aulia Rahman Basri.

Berdasarkan catatan evaluasi internal Pemkab Kutai Kartanegara, tingkat penyerapan kerja pada gelaran tahun lalu sangat minim dibandingkan dengan jumlah pendaftar.

"With berat hati kami menyampaikan bahwa di tahun 2025 itu, dari 1.000 lebih pendaftar pada saat kita melaksanakan Job Fair, setelah kita laksanakan evaluasi, yang diterima di tempat pemberi kerja itu cuma 26 orang. Sangat miris kita melihat kondisi ini," terang Aulia Rahman Basri.

Ia menengarai bahwa sistem pendaftaran yang hanya berfokus pada pengumpulan berkas administratif menjadi kendala utama minimnya tindak lanjut dari perusahaan.

"Karena pada proses-proses sebelumnya, Job Fair yang kita laksanakan itu titik tekannya adalah bagaimana para pemberi kerja menerima lamaran dari para pencari kerja. Sehingga proses pengendalian dari Dinas Transnaker tidak bisa terlalu jauh terhadap para pemberi kerja," tutur Aulia Rahman Basri.

Penilaian kesuksesan acara yang selama ini sekadar diukur dari kuantitas berkas yang masuk kini mulai diubah polanya.

"Kita cukup puas saat sebelum-sebelumnya itu dengan banyaknya saudara-saudara kita memasukkan lamaran pada saat Job Fair ini berlangsung," kata Aulia Rahman Basri.

Perubahan format pemantauan tersebut dirancang setelah mendapat masukan akademis untuk melacak hasil akhir rekrutmen dari setiap perusahaan peserta.

"Ini juga merupakan salah satu saran dari Prof. Iskandar waktu itu. Beliau bilang bahwa coba kita bikin formulasi, bagaimana kira-kira pada saat Job Fair itu kita bisa mengetahui hasil dari proses penerimaan yang dilakukan oleh para pemberi kerja," beber Aulia Rahman Basri.

Dengan sistem baru ini, pemerintah daerah berkomitmen mengawal proses penempatan kerja masyarakat Kutai Kartanegara secara berkelanjutan.

"Alhamdulillah, di Job Fair tahun 2026, kita sudah bisa mengetahui seberapa banyak saudara-saudara kita yang diterima bekerja nantinya. Pastinya, ini akan kita pantau terus agar masyarakat Kukar bisa mendapatkan pekerjaan yang layak," pungkas Aulia Rahman Basri.

Pada pelaksanaan tahun ini, kesenjangan kualifikasi administratif masih menjadi kendala utama bagi sebagian besar pelamar yang mendaftar.

"Masih menjadi tantangan kita, di mana antara pelamar dengan yang diterima itu gap-nya lumayan jauh. Tahun lalu pelamarnya sekitar seribu lebih, yang diterima hanya 26 orang. Tahun ini dari 1.176 pendaftar, hanya 196 yang lolos berkas. Artinya masih banyak yang belum memenuhi persyaratan administrasi," ujar Aulia Rahman Basri.

Pemerintah daerah berharap proses evaluasi kompetensi ini dapat menjadi acuan perbaikan kualitas tenaga kerja lokal pada masa mendatang.

"Kami ingin mengetahui penyebab masih besarnya kesenjangan kompetensi tersebut. Evaluasi ini penting agar ke depan semakin banyak pencari kerja yang memenuhi persyaratan administrasi dan memiliki peluang lebih besar untuk diterima bekerja," katanya.

Sementara itu, Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kutai Kartanegara mengonfirmasi bahwa tahapan seleksi berkas telah berjalan sejak awal Juni sebelum memasuki sesi wawancara langsung.

"Hari ini peserta yang telah lolos pemberkasan mengikuti tahapan wawancara langsung. Kami juga tetap membuka layanan pendaftaran secara offline bagi masyarakat yang belum sempat mendaftar melalui sistem online," jelas Pelaksana Tugas Kepala Distransnaker Kutai Kartanegara, Dendi Irwan Fahriza.

Sistem rekrutmen yang lebih tertata ini diproyeksikan mampu menempatkan mayoritas peserta yang lolos langsung ke sektor industri terkait.

"Seleksi administrasi dilakukan selama satu bulan, kemudian wawancara berlangsung dua hari dan hasilnya langsung diumumkan. Insya Allah sekitar 80 persen peserta yang dinyatakan lolos nantinya akan langsung ditempatkan di perusahaan masing-masing," ungkap Dendi Irwan Fahriza.

Di sisi lain, tantangan ketenagakerjaan juga dihadapi Kabupaten Kutai Barat akibat tingginya angka pemutusan hubungan kerja sepanjang pertengahan tahun ini.

"Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Kami tidak akan berdiam diri. Melalui Job Fair ini, kami terus berupaya membuka lebih banyak peluang kerja sebagai salah satu langkah untuk menekan angka pengangguran akibat PHK," ujar Pelaksana Tugas Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kutai Barat, Welsi.

Disnakertrans Kutai Barat mencatat sekitar 2.780 pekerja terdampak PHK, sehingga Job Fair Kutai Barat yang direncanakan pada 27–28 Agustus 2026 di GOR Desnan Sendawar ditargetkan mampu meningkatkan penyerapan tenaga kerja lokal.

"Kami berharap semakin banyak perusahaan yang membuka kesempatan kerja, sehingga lebih banyak masyarakat Kutai Barat dapat memperoleh pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraannya," pungkas Welsi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author